Saturday, October 7, 2017

4 Jenis Sosialisasi Dan Contohnya

Suatu peraturan, kebijakan, atau undang-undang sanggup berlaku efektif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara jikalau sebelumnya telah ada proses sosialisasi secara bersiklus atau terus menerus melalui serangkaian aktivitas atau kegiatan. Secara detail, dalam Geografi Sosial diketahui mengenai adanya sosialisasi, yaitu suatu proses yang dilakukan secara terus menerus bagaimana seorang individu dalam masyarakat memelajari dan mendapatkan cara hidup, nilai-nilai, dan norma-norma sosial yang mengatur tingkah laris dalam bermasyarakat sehingga sanggup diterima oleh suatu masyarakat tertentu.


Secara umum, pengertian sosialisasi sangat bermacam-macam dalam bidang ilmu Sosiologi. Misalnya, Sosialisasi berdasarkan Charlotte Buhler ialah proses yang membantu individu untuk berguru dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup, dan berpikir dalam kelompoknya semoga seorang individu tersebut sanggup berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Menurut Peter Beger, sosialisasi ialah suatu proses dimana seseorang menghayati dan memahami norma-norma dalam masyarakat dimana seorang individu tersebut tinggal didalamnya sehingga sanggup membentuk kepribadiannya. Secara singkat, sosialisasi merupakan proses penanaman atau pengiriman kebiasan atau nilai dan hukum dari satu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat atau kelompok (Sari, 2009).


Dalam melaksanakan suatu sosialisasi dalam beberapa hal tertentu, ada beberapa media sosialisasi yang sanggup dipakai baik secara pribadi maupun tidak langsung. Media sosialisasi yang sering dipakai dalam suatu masyarakat ialah sebagai berikut:



  • Bagian ini merupakan unit terkecil dalam kehidupan bernegara. Pada unit ini ayah dan ibu merupakan biro sosialisasi yang sangat efektif dalam menanamkan suatu nilai, ajaran, atau norma kepada anak-anaknya.

  • Pada unit ini, pendidikan merupakan suatu media sekunder dalam sosialisasi dan bersifat formal dimana seorang anak didik di sekolah tidak hanya bisa membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga sanggup berguru wacana kemandirian, prestasi, universalisme, dan kekhasan.

  • Tempat bermain. Unit ini sangat kuat besar dalam pembentukan kepribadian anak alasannya dalam daerah atau kelompok bermain bawah umur akan melaksanakan sosialisai dengan bawah umur yang lain.

  • Media massa. Peran dari media cetak dan elektronik dalam mensosialisasikan sesuatu hal tergantung pada frekwensi dan kualitas pesan yang ingin disosialisasikan.

  • Tempat kerja. Lingkungan ini sangat efektif sebagai media sosialisasi alasannya adanya keterkaitan antar satu individu dengan lainnya berdasarkan kesamaan kondisi.


Jenis Sosialisasi


Berdasarkan klarifikasi di atas, jenis-jenis sosialisasi yang sanggup dikaji dari media sosialisasi tersebut di atas terbagi menjadi empat jenis sosialisasi:



  1. Formal. Sosialisasi ini melalui forum atau institusi yang dibuat oleh pemerintah dan masyarakat dan mempunyai kiprah khusus dalam mensosialisasikan peraturan, kebijakan, nilai dan norma sosial, dan sejumlah peranan yang harus dipelajari oleh masyarakat. Jenis sosialisasi ini sanggup terlihat di sekolah, kantor kelurahan/kabupaten, dewan adat, dan lainnya.

  2. Informal. Sosialisasi ini sanggup dijumpai dalam pergaulan sehari-hari dan lebih bersifat kekeluargaan, contohnya arisan keluarga, rapat keluarga, dan lain sebagainya.

  3. Sosialisasi primer. Sosialisasi ini merupakan sosialisasi pertama yang dijalani oleh individu pada waktu kecil untuk berguru menjadi anggota masyarakat (keluarga). Individu yang melaksanakan sosialisasi primer ini berumur antara 1 sampai 5 tahun atau pada dikala mereka belum mulai masuk sekolah. Pada sosialisasi primer ini, kiprah orang renta dan saudara sangat kuat besar dan penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak.

  4. Sosialisasi sekunder. Sosialisasi yang merupakan lanjutan dari sosialisasi primer dimana proses ini mulai memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu di suatu masyarakat. Proses ini meliputi dua bentuk yaitu resosialisasi dan desosialisasi. Pada resosialisasi, seorang individu diberikan identitas diri yang baru, dan pada desosialisasi, seorang individu akan mengalami penghapusan identitas diri yang lama.


Lebih lengkapnya bisa merujuk pada faktor yang menghipnotis interaksi sosial.


Contoh Sosialisasi


Secara rinci, dari klarifikasi tipe sosialisasi di atas maka beberapa pola yang sanggup ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari ialah sebagai berikut:



  • Contoh sosialisasi fomal meliputi antara lain: sosialisasi wacana ancaman Narkoba dan Terorisme dalam rapat RT, organisasi karang taruna, dan sekolah; Sosialisasi wacana Budaya Keselamatan di Jalan dalam seminar di sekolah, rapat Muspida dan Muspika; Sosialisasi SEA Games ke-18 yang dikampanyekan di beberapa forum dan instansi pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat melalui seminar, rapat, dan workshop; Sosialisasi Gerakan Masyarakat Sehat dan Imunisasi Nasional; Sosialisasi Bahaya Letusan Gunung Berapi dan Tsunami; dan Sosialisasi Nyamuk Demam Berdarah

  • Contoh sosialisasi informal mencakup: sosialisasi budaya membuang sampah pada tempatnya, sosialisasi tidak merokok di sembarang tempat, sosialisasi kerja bakti, dan lainnya

  • Contoh sosialisasi primer contohnya memperkenalkan anggota keluarga pada seorang bayi; mengajari bayi cara makan, buang air besar, dan berjalan; membiasakan seorang bayi untuk melaksanakan sesuatu dengan berdoa terlebih dahulu; mengajarkan bayi untuk berterima kasih dan memohon; mengajarkan seorang anak baik dan jelek atau benar dan salah; memperlihatkan teladan yang baik.

  • Contoh sosialisasi sekunder contohnya memperkenalkan seorang anak ke keluarga lain atau lingkungan sekitar; mengajarkan anak untuk berkenalan dengan anak yang lain; melatih kemandirian dan keberanian anak dengan melepaskannya di lingkungan sekitar; memperlihatkan kesempatan kepada seorang anak untuk mengaktualisasikan dirinya di lingkungan baru; menasehati anak jikalau melaksanakan kesalahan.


Dari klarifikasi mengenai tipe sosialisasi beserta contohnya tersebut di atas, ada sejumlah proses sosialisasi yang perlu diperhatikan semoga tujuan dari suatu sosialisasi tersebut sanggup berjalan dengan baik. Proses tersebut meliputi tahap persiapan, tahap peniruan, tahap bermain peran, tahap penerimaan norma kolektif. Menurut proses tersebut, sosialisasi mempunyai tujuan antara lain sebagai berikut:



  • memberikan keterampilan kepada seorang individu untuk sanggup hidup dalam masyarakat;

  • mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif;

  • membantu mengendalikan fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan pengembangan diri yang tepat; dan

  • membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan kepercayaan yang ada dalam masyarakat.


Dengan memahami jenis sosialisasi beserta media dan tujuan daripadanya, maka suatu kebijakan, peraturan, atau aktivitas sanggup berjalan efektif jikalau kegiatan sosialisasi dilakukan semenjak awal atau sedini mungkin kepada individu yang ada dalam masyarakat.



Sumber aciknadzirah.blogspot.com