Keringat, atau Perspirasi yakni sekresi cairan (keringat) dari kelenjar keringat. Kata ini yakni kata benda dan kata kerja; itu sanggup merujuk pada tindakan berkeringat atau keringat itu sendiri. Perspirasi kebanyakan terdiri dari air, bersama dengan mineral, urea, dan asam laktat. Hanya mamalia yang berkeringat; beberapa, ibarat manusia, primata lain, dan kuda, berkeringat relatif lebih dari yang lain sebab mereka mempunyai lebih banyak kelenjar keringat. Manusia mempunyai antara dua dan empat juta kelenjar keringat. Berkeringat yakni salah satu cara untuk mendinginkan suhu tubuh dalam cuaca hangat atau dikala berolahraga.
Fungsi Perspirasi
Fungsi Perspirasi pada insan dan binatang lain dengan banyak kelenjar keringat, ibarat primata dan kuda, yakni melaksanakan termoregulasi pada tubuh, yang berarti mempertahankan suhu organisme pada titik tertentu, tidak peduli ibarat apa lingkungan sekitarnya. Perspirasi membantu menjaga mamalia menjadi hambar ketika menguap dari permukaan kulit.

Pada mamalia lain dengan kelenjar keringat lebih sedikit, perspirasi memainkan tugas dalam termoregulasi, tetapi tidak begitu besar. Sebagai contoh, anjing mempunyai kelenjar keringat di bantalan kaki mereka untuk membantu menjaga mereka tetap dingin, tetapi mereka terutama mengatur suhu mereka dengan terengah-engah. Ini mendinginkan mereka sebab memungkinkan air menguap dari lisan dan tenggorokan mereka.
Pada binatang ibarat babi dan badak, perspirasi tidak efisien untuk mendinginkan tubuh mereka, sehingga mereka berkubang dalam lumpur supaya tetap dingin. Kuda nil tidak mempunyai kelenjar keringat yang sejati, dan harus menghabiskan banyak waktu di air untuk tetap hambar dan tetap terhidrasi. Demikian pula, cetacea (paus, lumba-lumba, dan lumba-lumba, yang semuanya terkait bersahabat dengan kuda nil) hidup di air dan tidak mempunyai kelenjar keringat; mereka mengandalkan air untuk termoregulasi.
2 Jenis Kelenjar Keringat
Ada dua jenis kelenjar keringat: ekrin dan apokrin. Kelenjar keringat ekrin sangat banyak dan ditemukan di seluruh tubuh. Mereka mengeluarkan keringat yang tidak berbau dan terutama terdiri dari air dan garam. Mereka ditemukan dalam jumlah tertinggi di telapak tangan seseorang, telapak kaki, dan kepala. Kelenjar keringat Apokrin hanya ditemukan di lokasi tertentu di tubuh, ibarat ketiak, susukan telinga, dan alat kelamin. Beberapa struktur yakni kelenjar keringat apokrin yang telah berevolusi dan melaksanakan fungsi khusus; kelenjar susu, yang menghasilkan susu, dan kelenjar ceruminous, yang menghasilkan kotoran telinga, yakni dua contohnya. Kelenjar apokrin juga menghasilkan keringat yang tidak berbau, tetapi sanggup berbagi aroma khas wangi tubuh dari dekomposisi basil sesudah terkena potongan luar tubuh. Kelenjar keringat Apokrin sensitif terhadap epinefrin (adrenalin), dan inilah mengapa insan cenderung berkeringat lebih banyak selama masa ketakutan, rasa sakit, stres, atau dikala berafiliasi badan.
Banyak orang Asia memiliki, rata-rata, wangi tubuh yang relatif kurang dari orang-orang dari etnis lain sebab variasi dalam gen ABCC11. Mereka juga cenderung mempunyai kotoran indera pendengaran kering daripada kotoran indera pendengaran basah. Kotoran indera pendengaran berasal dari kelenjar ceruminous, yang merupakan kelenjar keringat yang dimodifikasi, dan gen yang sama ini yakni penyebab perbedaan produksi keringat dan kotoran telinga.
Hiperhidrosis
Hiperhidrosis yakni istilah medis untuk keringat yang berlebihan. Ini juga disebut hidrosis atau diaphoresis (meskipun diaphoresis juga sanggup merujuk pada keringat normal). Hiperhidrosis sanggup bersifat primer, yang berarti terjadi di seluruh tubuh, hadir semenjak lahir, dan diturunkan secara genetik, atau sekunder, yang mengacu pada hiperhidrosis yang dilokalisasi ke lokasi tertentu dan diperoleh di lalu hari sebab perkembangan kondisi ibarat gangguan tiroid, diabetes, atau menopause. Kecemasan sanggup memperburuk tanda-tanda hiperhidrosis primer sebab mengaktifkan sistem saraf simpatis, yang menjadikan peningkatan keringat.
Pengobatan Hiperhidrosis
Hiperhidrosis primer sanggup diobati dengan beberapa metode. Salah satu bentuk pengobatan yakni penggunaan kekuatan deodoran klinis, yang mengandung persentase lebih tinggi dari aluminium klorida daripada deodoran biasa. Jika deodoran yang diresepkan secara klinis tidak mengurangi keringat, maka beberapa perawatan medis yang berbeda sanggup dicoba. Salah satunya yakni iontoforesis, yang melibatkan penempatan tangan atau kaki dalam air yang mempunyai arus listrik yang sangat rendah melewatinya; meskipun metode ini telah berhasil mengobati hiperhidrosis semenjak 1940-an, para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami mengapa itu berhasil. Kelas obat resep yang disebut antikolinergik juga sanggup diminum untuk pengobatan. Ini mungkin mempunyai beberapa imbas samping ibarat sembelit, tetapi mereka sanggup membantu dalam mengurangi hiperhidrosis, terutama ketika diambil sebelum insiden yang menjadikan stres. Suntikan botulism toksin (Botox) di kawasan yang terkena juga sanggup membantu, meskipun suntikan ini sanggup menyakitkan dan efeknya pada hiperhidrosis hilang sampai sembilan bulan sesudah setiap suntikan.
Sebagai upaya terakhir, untuk kasus-kasus hiperhidrosis ekstrim yang tidak dibantu oleh metode lain, operasi sanggup dilakukan. Ini sanggup melibatkan penghilangan kelenjar keringat atau penghancuran beberapa saraf simpatetik. Namun, ini juga mungkin mempunyai banyak imbas samping. Banyak pasien mengalami peningkatan keringat di area lain di tubuh mereka sesudah operasi, yang biasanya tidak sanggup diubah. Dalam beberapa kasus, saraf yang dilepas sanggup beregenerasi, menjadikan keringat berlebih untuk terjadi kembali di kawasan tempat operasi dilakukan.
Orang dengan hiperhidrosis sanggup menciptakan beberapa perubahan gaya hidup untuk mengurangi keringat juga. Ini termasuk mengenakan pakaian longgar di kain berpori lebar ibarat katun, sering mandi, dan membatasi masakan pedas, minuman panas, dan alkohol.
Sumber aciknadzirah.blogspot.com