Showing posts with label learning leadership. Show all posts
Showing posts with label learning leadership. Show all posts

Wednesday, July 26, 2017

√ Learning Leadrship


LEARNING LEADERSHIP

Sebelum menjadi pemimpin maka ada hal-hal yang harus dibenahi dan diperhatikan, sebab intinya semua orang bisa menjadi pemimpin dan “leadership is not preordained or privilege”.  Untuk bisa menjadi dan menemukan pemimpin didalam diri masing-masing ada setidaknya lima hal yang harus dilakukan yakni (a) luruskan mindset—fix mindset; (b) berusaha menjadi yang terbaik—aspire to excel; (c) berusaha berkembang dan menjadi lebih baik, keluar dari zona aman—challenge yourself; (d) bekerjasama dengan orang lain—engage support; (e) terus berguru dan praktek—deliberate practice.
Hampir semua orang telah mempunyai pengalaman untuk membimbing atau memimpin, hanya saja tidak semua orang pribadi mempunyai kemampuan yang eksemplari dalam kepemimpinan, ada beberapa praktek atau latihan yang bisa dilakukan oleh individu untuk menjadi pemimpin yang eksemplari. Lima hal yang umumnya dilakukan pertama, seorang pemimpin harus memperlihatkan teladan kepada bawahannya wacana tujuan dan nilai-nilai yang dijunjung (model the way); pemimpin berusaha mendiskusikan dan membagi visi yang ia punya dengan tujuan untuk menginspirasi bawahannya (inspired a shared vision); pemimpin selalu mencari kesempatan untuk mengembangan diri dan anggotanya, dan mencari kemungkinan-kemungkinan gres (challenge the process); pemimpin mendorong anggota untuk bersama-sama merealisasikan visi yang dimiliki demi terciptanya kepercayaan diri dan self-determination (Enable others to act); memperlihatkan penghargaan bagi setiap perjuangan yang dilakukan oleh anggota (Encourage the heart).
Banyak penelitian telah memperlihatkan bahwa kemampuan seseorang untuk melaksanakan kelima hal di atas dalam kegaitan manajerial dan kepemimpinan dalam organisasinya memperlihatkan hasil yang positif dalam keefektifan organisasi, teamwork, kepuasaan, komitmet dan juga performa anggota dalam organisasi secara keseluruhan. Di bawah ini ialah lima yang akan harus dilakukan oleh semua orang atau individu supaya bisa dan mempunyai kepercayaan untuk memimpin:

1)   Fix Mindset—Believe that You can
Telah disebutkan sebelumnya bahwa, kekurangan pemimpin (leader shortage) yang terjadi akhir-akhir ini intinya berasal dari kurangnya determinasi dan kepercayaan diri individu terhadap kemampuannya. Ketidakpercayaan diri ini berasal dari mitos-mitos wacana kepemimpinan yang banyak dipercaya oleh masyarakat dan kebanyakan populasi. Untuk bisa bangun dan memulai menjadi pemimpin langkah pertama yang harus dilakukan ialah membuang jauh-jauh kepercayaan akan mitos-mitos yang menyatakan bahwa kepemimpinan atau pemimpin ialah suatu talenta yang dibawa semenjak lahir dan preordained. Selama individu masih mempunyai kepercayaan bahwa beliau tidak akan bisa menjadi pemimpin sebab ia tidak mempunyai bakat, atau kekuasaan dan kemandirian, maka selamanya individu tersebut tidak akan berhasil menjadi pemimpin.

Oleh sebab itulah hal pertama yang dilakukan ialah percaya pada diri sendiri, percaya bahwa Anda bisa dan bisa menjadi pemimpin—believe in yourself. Bahkan Buddha menyatakan hal yang sama ia menyatakan bahwa “All we are is the result of what we have thought. The mind is everything. What we think, we become”. Pernyataan tersebut terang memperlihatkan bahwa kepercayaan diri dan pemikiran akan suatu hal ialah awal dari perubahan. Ini merupakan langkah dasar namun juga yang paling penting yang harus dilakukan, bisa jadi juga hal yang paling berat, khususnya bagi orang yang memang memilki low self-esteem. Latihan apapun, sebanyak apapun pengetahuan yang dimiliki seseorang bila ia tidak mempunyai kepercayaan dan pemikiran bahwa ia mampu, maka ia tidak akan bisa bertindak, ia tidak akan mempunyai determinasi untuk melaksanakan apapun, yang alhasil hanya bisa menjadi pengikut. Untuk meluruskan pemikiran (mindset) dan menumbuhkan kepercayaan diri maka Anda dilarang mengizinkan orang lain menggoyahkan pikiran anda dengan berkata anda tidak bisa memimpin. Kepercayaan akan memperlihatkan anda janji dan janji akan membuat anda membuat perjuangan untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Growth mindset adalah pemikiran yang harus seorang pemimpin miliki, yakni pemikiran yang percaya bahwa kulitas dan kemampuan ialah hal yang bisa diambil dan didapatkan melalui usaha. Mindset akan besar lengan berkuasa pada performa, dan motivasi, keinginan untuk belajar, determinasi dan kemampuan untuk mendengarkan saran (feedback).

Dalam proses pengembangan diri, penumbuhan kepercayaan diri dan mindset  berhubungan dengan pertanyaan “who are you?”. Anda harus tahu siapa diri Anda, apa yang Anda inginkan, dan bagaimana Anda menggapainya. Ketika Anda berhasil menjawab pertanyaan tersebut maka Anda berada di jalan yang benar dalam proses berkembangan diri (Self-development process). Process ini setidaknya ada tiga tahap yakni:
1)      Looking Out, ketika Anda pertama kali menjadi pemimpin Anda akan menggambarkan orang-orang atau tokoh yang Anda lihat di sekitar Anda—exterior landscape. Anda bisa membaca buku-buku biografi, mengobservasi, atau mengikuti pelatihan, atau menanyakan saran pada mentor. Hal ini dilakukan supaya Anda berguru hal-hal dasar dan mendasar yang harus dimiliki dan untuk mendapatkan cara atau alat untuk teknik dari pengalaman-pengalaman orang lain.
2)      Looking In; selanjutnya sesudah Anda melaksanakan observasi, berguru dari pengalaman-pengalaman, melaksanakan latihan-latihan kepemimpinan. Lama kelamaan Anda akan menyadari bahwa apa yang Anda lakukan terasa lebih mekanikal seakan-akan meniru, atau Anda mulai mencicipi bahwa apa yang anda pelajarai tidak lagi memperlihatkan manfaat bagi Anda. Saat ini lah Anda harus mulai melihat diri Anda sendiri, wacana menyerupai apakah Anda, atau bagaimana bersama-sama gaya Anda memimpin harus diadaptasi dengan kemampuan dan panggilan dari dalam diri Anda.
3)      Find Your True Voice; ini ialah titik balik dimana Anda bisa menggabungkan apa yang Anda pelajari dari luar dan apa yang Anda temui dari dalam diri Anda. Anda akan menyadari bahwa Anda bukanlah copy dari orang lain, bahwa Anda ialah diri Anda sendiri dengan semua keunikan. Dan bila itu bukan perkataan yang berasal dari dalam diri Anda, atau gaya Anda sendiri maka itu bukan lah Anda, tapi Anda hanya berpura-pura. Anda tidak bisa menjalankan pengalaman orang lain, menjadi diri sendiri dan feel comfortable with your own skin.
Dari ketiga hal tersebut dan semua yang dijelaskan sebelumnya, maka poin yang paling penting ialah tidak ada yang bisa memasukkan kepemimpinan atau pemimpin ke dalam dalam diri anda, anda lah yang harus bisa mengeluarkannya. Karena Leadership emerge from within.
Selanjutnya cuilan dari perkembangan diri ialah belajar, seorang pemimpin akan selalu mau berguru untuk menjadi lebih baik, sebab tidak ada seseorang yang bisa melaksanakan apapun dan pribadi mendapatkan kesuksesan pertama kali ia mencoba atau melakukannya. Maka berguru dan terus berguru ialah hal yang bisa dilakukan untuk menjadi pemimpin yang lebih baik, bila Anda merasa bahwa Anda telah berhasil menjadi pemimpin ketika hari pertama anda mencoba, Anda harus bertanya pada diri anda sendiri apakah anda benar-benar belajar. Karena bila anda tidak pernah gagal maka umumnya Anda tidak pernah berusaha untuk mendorong diri Anda sekeras mungkin atau Anda tetap berada dalam zona kondusif dan tidak mencoba berguru hal yang baru. Pemimpin yang baik ialah seorang pelajar yang baik, tidaklah penting gaya Anda berguru yang paling penting ialah Anda berusaha untuk melaksanakan lebih, ialah hal yang sangat logical bila orang yang mendorong dirinya sekeras mungkin ialah orang yang akan berguru lebih banyak. Learning is a master skill.

2)   Aspire to Excel
Untuk menjadi pemimpin sebaik-baiknya, Anda harus mempunyai citra yang terang wacana nilai dasar dan kepercayaan yang akan membimbing dan mendasari keputusan dan tindakan yang akan diambil. Anda harus mempunyai kejelasan wacana apa yang paling anda perdulikan dan apa yang paling penting untuk Anda. Motivasi tersebut harus tiba dari dalam diri Anda bukan hanya semata berasal dari luar atau tuntutan dari lingkungan (intrinsic not instrumental). Kebanyakan pemimpin dengan kemampuan yang tinggi tidak kan terfokus pada jumlah uang yang didapat, mengejar promosi, atau mendapatkan promosi. Mereka benar-benar perduli pada pada misi dan visi orang-orang yang dipimpinnya.  Perlu diingat bahwa kepemimpinan bukalah hanya tenatang merealisasikan visi dan misi pribadi tapi lebih kepada merealisasikan cita-cita dan membantu orang-orang atau anggota Anda menyadari misi dan visinya dan menginspirasinya untuk menggapai hal tersebut. Tiga hal utama dalam tahapan ini adalah: anda harus mengetahui apa yang penting untuk anda, anda harus menyadari anda kini belum tentu menjadi anda dimasa yang akan datang, dan kepemimpinan bukanlah hanya wacana diri Anda sendiri.

Anda harus tahu terang apa yang penting untuk anda, sehingga Anda mempunyai nilai dasar, dan prinsio yang jelas. Hal tersebut penting dalam proses menuju kepemimpinan yang lebih baik sebab nilai dan prinsip tersebut akan mendefinisikan siapa Anda. Adalah hal yang sulit atau bahkan mustahil untuk berusaha membela dan menghidupkan prinsip dan nilai yang bahkan Anda sendiri pun tidak meyakininya. Sebagai seorang pemimpin Anda harus bisa menggerakan anggota atau bawahan sehingga mereka mau bersama-sama berusaha mewujudkan visi dan misi yang ada, ketika Anda tidak mempunyai prinsip dan nilai yang jelas, anggota tidak akan mempunyai keyakinan yang utuh wacana kemampuan dan dan kompetensi Anda untuk mencapai visi atau untuk menuntaskan tugas. Mereka tidak akan mau mengikuti Anda, sebab ketidakjelasan akan memperlihatkan keraguan kepada pihak yang bersangkutan dalam hal ini anggota organisasi atau bawahan Anda. Memiliki nilai dan prinsip yang terang dan sadar akan apa yang penting untuk Anda sangat membantu dan bermanfaat baik bagi Anda sebagai pemimpin dan juga bagi anggota atau bawahan Anda. Ketika Anda mempunyai konsep, prinsip, dan nilai yang terang baik mengenai diri Anda sendiri atau mengenai organisasi Anda akan mengeluarkan segenap kemampuan Anda untuk organisasi, Anda akan merasa sangat terlibat atas kekurangan, kelebihan, kebaikan dan kejelekan organisasi. Semakin anda paham dan semakin terang nilai yang Anda pegang maka perasaan mempunyai dan keinginan untuk berkembang bersama organisasi akan lebih tinggi pula. Di sisi anggota atau bawahan, pemimpin dengan kejelasan nilai dan prinsip memperlihatkan mereka kepercayaan dan keyakinan bahwa organisasi mempunyai tujuan yang jelas, dan akan menubuhkan sense of pride dan sense of belonging yang mana akan berujung pada kesuksesan anggota, pemimpin, dan organisasi secara keseluruhan.

Anda juga harus menyadari bahwa Anda yang kini belum tentu menjadi Anda di masa depan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya Anda harus mau berubah, khususnya bermetamorfosis lebih baik, sangatlah krusial unuk disadari bahwa keadaan, situasi, dan kontek, bahkan insan akan berubah seiring berjalannya waktu. Kehidupan di masa depan sangat mungkin berbeda dengan kehidupan kini atau dimasa lalu. Meskipun terdengar sangat sederhana, namun kesadaran akan kemungkinan perubahan sangatlah krusial sebab ini akan besar lengan berkuasa pada apa yang akan dilakukan oleh pemimpin dan rencana-rencana kegiatannya.

Pada dasarnya masa depan atau masa yang akan tiba ialah domain atau kawasan kekuasaan dari pemimpin itu sendiri, mengapa begitu hal ini didasari oleh kiprah pemimpin yang mana bertanggung jawab untuk selalu berfokus pada tujuan dan masa depan, pemimpin yang baik ialah pemimpin yang forward-looking. Mereka perduli akan masa depan dirinya, anggotanya dan organisasinya, serta mempunyai tujuan yang terang (sense of purpose), sehinga bisa menganalisis dan mengkaji kemungkinan-kemungkinan keadaan di masa yang akan tiba dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk atau kerugian. Dalam prose untuk berkembang menjadi pemimpin yang baik, maka akan harus lebih menghabiskan sebagian banyak dari waktu Anda untuk memikirkan masa depan daripada apa yang Anda lakukan ketika ini, mengorientasikan diri Anda untuk bisa bertindak dan merespon hal-hal yang akan terjadi di masa depan daripada memikirkan bagaimana menindaklanjuti apa yang telah terjadi. Proaktif ialah salah satu faktor yang akan membimbing Anda pada kesuksesan. Untuk bisa melihat apa yang ada di masa depan dan bagaimana menghadapinya maka Anda akan harus melaksanakan ketiga hal ini, yakni stop, looking around, and listen. Stop, berhentilah sejenak dari apa yang Anda lakukan, hentikan semua gangguang-gangguan (distraction), dan mulai menyadari dan melihat apa yang terjadi disekitar Anda, menjadi lebih ingin tahu, dan jeli dalam memperhatikan. Look around, banyak penemuan yang tercipta dari kemampuan seseorang untuk menyadari apa yang ada disekitarnya, mengkaji dan melihat pola kehidupan, lihat sesuatu dari menyebarkan perspektif, lihatlah pada kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi. Seorang pemimpin yang baik ialah seorang yang mempunyai sense of observation yang kuat, mereka cenderung mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi yang meningkatkan keinginan mereka untuk mengkaji dan mengobservasi banyak hal, bahkan hal-hal yang terlihat trivial atau sederhana sekalipun.

Kepemimpinan dan menjadi seorang pemimpin juga berarti keperdulian akan organisasi dan anggota atau bawahan-bawahan Anda, it is not all about you. Pemimpin bukan hanya wacana menjadi orang yang mempunyai kuasa dan privilege untuk memerintah atau memperlihatkan tugas, namun menjadi pemimpin berarti Anda harus bisa melihat apa yang dilihat oleh orang lain, Anda harus tahu dan mengerti serta mengapresiasi dan mengaspirasi kebutuhan, mimpi, harapan, dan ketertarikan semua anggota Anda. Anda harus bisa berkomunikasi dengan anggota atau bawahan Anda menyadari semua hal yang dianggap penting olehnya, mengetahui sejauh apa ketertarikannya, mengerti dan mengetahui standar, dan batasan-batasannya. Sebagai pemimpin Anda harus mempunyai tujuan yang jelas, dan berarti, you have to serve a larger purpose.

Ingatlah bahwa visi akan masa depan bukanlah prediksi, itu ialah kreasi atau ciptaan tidak ada yang bisa menyampaikan apa yang akan terjadi di masa depan dengan 100% keyakinan. Menjadi pemimpin yang baik dan exemplary secara mendasar merubah diri Anda menjadi seseorang yang lebih baik, merubah kekerabatan Anda dengan diri Anda dan orang lain, merubah cara Anda meilihat masa depan, merubah cara Anda menghadapi tantangan, merubah cara Anda mengapresiasi orang lain. Dari sana terlihat bahwa kepemimpinan mempunyai dasar perubahan yang mana menginspirasi semua orang untuk menjadi lebih baik, menjadi yang terbaik.

3)   Challenge Yourself
Untuk berkembang menjadi pemimpin yang lebih baik Anda harus mau dan melaksanakan yang terbaik untuk keluar dari zona aman, mencari pengalaman-pengalaman baru, menguji diri sendiri, membuat kesalahan-kesalahan, terjatuh dan kembali berdiri dan terus berguru lagi dan lagi. Untuk menjadi pemimpin yang lebih baik Anda harus mempunyai persisten yang tinggi, tidak praktis mengalah dan terus menerus mengambil inisiatif untuk mencoba hal-hal yang baru, poin yang penting dari semua eksperimen dan percobaan-percobaan yang Anda lakukan ialah mengambil pengalaman dan berguru dari kesalahan-kesalahan dan problem yang dihadapi, mencoba kembali dan berguru kembali terus-menerus menjadi sebuah cycle of learning.

Manusia pada umumnya ialah makhluk yang tidak pernah puas akan apa yang terjadi dan apa yang telah didapatkan, dan ini ialah salah satu karakteristik insan yang juga krusial ketika menjadi pemimpin, pemimpin yang hebat tidak akan bisa membuat sesuatu yang menakjubkan dengan hanya mendapatkan keadaan dan membiarkannya berjalan seadanya. Bayangkan, bila nenek moyang kita puas dan merasa cukup dengan apa yang telah mereka miliki, sangatlah mustahil bagi kita untuk hingga di masa ini dan bisa menikmati semua kemudahan-kemudahan teknologi. Hal ini terjadi, sebab nenek moyang kita berjuang dan terus berguru dan menantang diri mereka sendiri untuk mencari tahu, untuk membuat sesuatu lebih baik.  Tantangan ialah salah satu bentuk dan lapangan latihan bagi seorang pemimpin, tantangan akan memperlihatkan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.  Namun, pentingnya untuk keluar dari zona kondusif bukan berarti Anda terburu-buru melaksanakan sesuatu yang besar dan drastis, menyerupai misalnya membuka perusahaan baru, membuat pergerakan, atau menantang sejarah, yang harus Anda lakukan ialah mulai dari exploring, investigating, experimenting apa yang bisa dilakukan untuk membuat keadaan lebih baik. Contohnya, dengan memakai cara gres untuk mengatur karyawan atau untuk memperlihatkan dan meningkatkan kenyamanan karyawan.

Orang-orang pada umunya melaksanakan yang terbaik ketika mereka merasa tertantang, sehingga tantangan merupakan salah satu faktor yang mendorong seseorang menjadi lebih baik, dengan kata lain challenge is a motivating environment for excellence. Penelitian memperlihatkan tiga hal yang berafiliasi dengan tantangan (challenge) yakni: (1) kesempatan untuk ditantang atau mendapatkan tantangan pada keadaan dan mengenalkan perubahan membuka pintu perubahan untuk melaksanakan yang terbaik; (2) Tantangan kebanyakan sering mengeluarkan kemampuan dan keterampilan yang bahkan tidak diketahui oleh orang yang bersangkutan. Pada waktu yang sempurna dan dengan kesempatan yang tepat, orang yang biasa saja bisa menjadi orang yang menakjubkan dan hebat (ordinary people can turn into an extraordinary one); (3) tantangan tidak selalu harus dicari, kebanyak ketika seserang menjadi pemimin tantanganlah yang akan menghampiri Anda. Hal tersebut memperlihatkan bahwa bila Anda ingin menjadi pemimpin yang extraordinary makan Anda harus mau mencari kesempatan untuk berguru menantang dan menguji keterampilan dan kemampuan yang Anda miliki, dan mau bereksperimen dengan merubah lingkungan, cukup baik tidak akan pernah menjadi cukup ketika Anda mempunyai sasaran untuk menjadi terbaik dari yang Anda mampu.

Selain mengeluarkan kemampuan dan keterampilan yang tersembunyi dalam diri Anda, tantangan juga akan mengenalkan Anda pada apa yang berdasarkan Anda penting. Mendapatkan tantangan berupa menghadapi hal baru, menghadapi perbedaan, atau membuat sesuatu yang unik dan gres yang belum diketahui oleh masyarakat luas kan memperlihatkan Anda kesempatan untuk menanyakan diri Anda sendiri dan mengetahui hal mendasar menyerupai tujuan apa yang ingin Anda capai. Dalam proses perkembangannya seorang pemimpin akan selalu menemui pola menyerupai ini try-fall-learn-repeat. Hal ini berarti didasari oleh rasa keingintahuan, anda akan mulai mencoba-coba dan bereksperimen untuk melaksanakan hal yang baru, kemudian Anda akan melaksanakan kesalahan atau akan mengalami kegagalan, namun kegagalan tersebut jangan lantas membuat Anda menyerah, namun kegagalan tersebut dipakai sebagai materi pelajaran, dimana kesalahannya, mengapa hal tersebut terjadi, dan kemudian Anda mengulang prosesnya lagi dengan bereksperimen tentu saja tahap ini akan lebih matang dari sebelumnya, sebab Anda telah mendapatkan pengalaman dan pembelajaran dari kesalahan sebelumnya. Proses tersebut mengimplikasikan bahwa Anda harus mempunyai resilience dan persistence yang kuat untuk bisa menjadi pemimpin yang hebat, tidak praktis menyerah. Get gritty and Stay hardy.

Tantangan ialah cuilan dari proses perkembangan dan pertumbuhan namun untuk bisa menghadapi dan tantangan yang ada akan diharapkan keberanian. Keberanian tidak saja bisa dihubungkan dengan pengalaman hebat berafiliasi dengan hidup mati, namun keberanian juga bisa relevan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya keberanian untuk mengakui kesalahan, keberanian untuk mengakui ada yang lebih baik. Keberanian intinya ialah hal yang personal, setiap orang mempunyai pengalamannya masing-masing, tidak pernah ada peraturan yang menyatakan bahwa orang yang berani hanyalah orang-orang dengan pengalaman-pengalaman tertentu. Sebagai pemimpin, keberanian dipakai ketika Anda berusaha untuk keluar dari zona nyaman Anda yang mana berafiliasi dengan keinginan untuk berguru dan bereksperimen dengan hal-hal baru. Sehingga keberanian bukan saja menjadi cuilan dari kepemimpinan ketika menjadi pemimpin namun juga dalam pengembangan untuk menjadi pemimpin yang lebih baik.

4)   Engage Support
Salah satu mitos dari kepimimpinan ialah kemampuan seorang pemimpin untuk berdikari atau self-dependent, bahwa pemimpin bisa melaksanakan segalanya sendiri, bahwa pemimpin ialah insan super yang tidak perlu santunan dari orang lain. Padahal sama menyerupai orang-orang lainnya, pemimpin pun perlu kerjasama dan santunan dari bawahan anggota atau orang-orang terkait untuk meningkatkan kemampuan atau mencapai tujuan organisasi. Anda tidak akan bisa menjadi pemimpin yang hebat tanpa santunan dari orang lain. Anda juga akan membutuhkan feedback dari orang-orang disekitar Anda untuk mengetahui efek dari tindakan-tindakan atau keputusan-keputusan yang Anda ambil sebagai pemimpin. Feedback dan saran tersebut akan membuat Anda mengetahui apa apa yang harus Anda lakukan selanjutnya. Namun, hal yang harus diperhatikan ialah untuk mendapatkan feedback yang menunjang, jujur, dan membangun diharapkan dasar kepercayaan antara satu sama lain, sehingga Anda perlu untuk membuat iklim dimana orang-orang akan mempunyai kepercayaan untuk memperlihatkan feedback atau saran pada satu sama lain.

Seorang pemimpin tidak pernah benar-benar sukses untuk mencapai tujuannya dengan melakukannya seorang diri, ia senantiasa memerlukan kerjasama dan kerja sama dari semua anggota dan orang-orang disekitarnya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya pemimpin bukanlah insan super yang bisa melaksanakan semuanya sendiri, teladan dalam suatu perusahaan, pemimpin tidak akan mendapatkan kesuksesan atau laba bila ia tidak dibantu oleh bidang pemasaran dan bidang kreatif. Dalam suatu organisasi semua orang mempunyai tanggung jawab, hak, dan keahliannya masing-masing dan ialah hal yang normal untuk mengakui bahwa pemimpin membutuhkan pihak lain untuk berkembang. Dalam dunia atlet ialah hal yang masuk akal ketika mendapatkan kemenangan ia akan berterima kasih dan menceritakan apa yang telah diajarkan oleh pelatihnya secara publik, sehingga ia bisa menang. Hal itu pulalah yang harus ditumbuhkan oleh pemimpin, akuilah bahwa Anda membutuhkan saran-saran, dan feedback dari anggota Anda dan mulailah untuk mengapresiasi semua bantuan anggota apa sekecil apapun itu. Penelitian memperlihatkan perilaku positif pemimpin terhadap feedback dari anggota besar lengan berkuasa dan berkontribusi pada kepercayaan diri dan kerjasama anggota secara keseluruhan. Hal ini juga akan membangun komunikasi yang baik antara pemimpin dan anggota. Khusunya ketika seorang pemimpin memperlihatkan empati, tenggang rasa tidak hanya dilakukan atau ditunjukkan ketika memperlihatkan support atau dukungan tapi juga tenggang rasa ketika mencari atau meminta pendapat dan saran. Hal ini bisa ditunjukkan dengan mendekati atau reach out orang yang memang kurang menyukai Anda dan mendengarkan baik-baik apa yang mereka katakana. Kegiatan ini akan membantu memperbaiki komunikasi antara Anda dengan orang yang tidak particulary suka dengan Anda.

Perbaikan komunikasi antar anggota, atau dengan pihak lain, akan membantu anda untuk mendapatkan kekerabatan atau koneksi dan jaringan yang akan sangat berkhasiat bagi perkembangan kemampuan kepemimpinan Anda, termasuk kemampuan dan kesuksesan organisasi. Ketika Anda menjadi pemimpin kualitas dari kekerabatan dan jaringan yang Anda buat dan miliki menjadi lebih signifikan, penelitian memperlihatkan bahwa kualitas komunikasi dan koneksi berkontribusi secara positif terhadap perkembangan individu dan efektifitas organisasi. Yang harus diperhatikan ialah meskipun koneksi dan jaringan ialah hal yang penting dan signifikan namun Anda masih harus bisa menjadi diri Anda sendiri, pilihlah orang-orang yang membuat Anda merasa nyaman namun tetap jujur dalam memperlihatkan feedback, sehingga membuat Anda berkembang. Ingat saran dan feedback adalah salah satu hal yang akan membuat tumbuh dan belajar.

5)   Deliberate Practice
Deliberate practice berarti Anda tidak semata-mata melaksanakan acara namun Anda secara sadar melaksanakan aktifitas yang secara spesifik dai desain untuk meningkatkan performa atau kemampuan Anda. Karakteristik dari deliberate practice ialah satu, kata kunci disini ialah di desain, yang berarti Anda tahu terang kegiatan-kegaitan apa saja yang akan Anda lakukan demi meningkatkan kemampuna And sebagai pemimpin dan kapan Anda akan melakukannya. Anda bisa mengikuti pelatihan-pelatihan, mengadakan diskusi atau membuat fokus group, selain itu Anda juga bisa menyewa pelatih untuk melaksanakan pelatihan. Dua, perlu diketahui bahwa praktik bukanlah kegiatan yang berlangsung sekali saja, melaksanakan praktek dengan hal-hal yang berafiliasi dan didesain untuk mengembangakan kemampuan Anda satu atau dua kali tidak akan membantu banyak, kegiatan ini harus dilakukan terus menerus secara berkesinambungan hingga pada alhasil menjadi suatu kebutuhan dan kegiatan yang otomatis. Ketiga, keberadaan feedback yang terstruktur, tanpa mengetahui bagaiamana keadaan Anda atau progress yang telah Anda capai sangatlah sulit untuk sanggup mengetahui sejauh apa Anda telah berkembang atau berapa usang lagi Anda bisa hingga pada sasaran yang diinginkan. Dari feedback yang didapatkan, Anda juga akan mengetahui kelemahan dan kelabihan yang Anda miliki, berusahalah untuk tetap rendah hati akan semua kelebihan yang Anda miliki dan mendapatkan dengan baik kekurangan yang punya. Kemampuan untuk mendapatkan kekurangan ialah salah satu langkah awal untuk menjadi lebih baik, bila seseorang tidak bisa mendapatkan kritikan akan kekurangan yang ia miliki dan tidak mau mengakuinya, maka ia tidak akan berkembang. Karena ia menolak untuk mengetahui bahwa kelemahannya sehinnga ia tak pernah mempunyai niat atau keperluan untuk mengatasi atau memperbaiki dan mengembangkannya.

Anda tidak akan menjadi pemimpin yang lebih baik ketika Anda tidak melaksanakan praktik atau perjuangan untuk mengembangkan diri dengan disiplin. Praktik harus dilakukan secara berturut-turut, namun bila Anda hanya berfokus pada jumlah waktu yang Anda habiskan untuk praktik tanpa disiplin dan tanpa desain yang jelas, maka Anda tidak akan mendapatkan hasil apapun. Mengetahui kelebihan dan mengembangkannya ialah hal yang penting, namun menyadari kelemahan yang dimiliki dan berusaha memperbaikinya tidak kalah pentingnya.

Lebih jauh lagi selain kelima kegiatan diatas, seorang pemimpin harus menyadari pentingnya konteks dalam suatu kepemimpinan, konteks bisa sangat menghipnotis cara berpikir, cara bekerja, dan tindakan yang diambil. Ketika didunia kerja atau organisasi konteks ini biasa disebut sebagai budaya organisasi (organizational culture), ketika seorang pemimpin bekerja atau memimpin pada organisasi dengan kultur yang baik, maka ia tidak akan terlalu menerima banyak masalah, namun tidak semua pemimpin mendapatkan lingkungan kerja yang positif, sehingga ia harus berusaha untuk menghidupkan budaya positif itu sendiri. Beberapa karakteristik budaya organisasi yang akan menunjang keefektifan pemimpin adalah: satu, besarnya kepercayan yang ada di lingkungan organisasi, baik antara pemimpin dan bawahan atau antara anggota. Kepercayan tersebut juga menghipnotis keberadaan rasa saling menghormati dalam perbedaan, dan kerja sama dan kerjasama yang sehat. Dua, memprioritaskan pembelajaran dan memperlihatkan banyak kesempatan yang sistematis untuk belajar, misalnya pengadaan seminar baik internal atau external, mentoring, couching, bahkan pengadaan classroom-based learning programs, online learning programs, dan lain sebagainya.

Kepemimpinan ialah suatu kebiasaan, suatu tindakan, dan komitmen, yang Anda ambil dan kerjakan sebagai cuilan dari diri Anda. Kepemimpinan bukanlah wacana bagaimana Anda memulai namun wacana bagaimana Anda mengakhiri—mencapai tujuan anggota, organiasi, dan pribadi.

C.  KESIMPULAN
Dari intisari diatas ada setidaknya ada lima hal yang akan besar lengan berkuasa dan harus dilakukan untuk bisa menjadi pemimpin yang lebih baik. Hal pertama ialah luruskan mindset, percayalah pada diri sendiri, percaya bahwa Anda bisa untuk memimpin dan mempunyai kapasitas untuk melaksanakan yang terbaik bagi anggota dan organisasi yang anda pimpin. Kedua, pemimpin harus menginspirasi bawahan atau anggota, sehingga Anda harus mempunyai tujuan dan visi yang jelas, visi yang terang akan memperlihatkan kepercayaan dan keterlibatan yang baik dari anggota yang mana keterlibatan tersebut akan besar lengan berkuasa pada kekuatan organisasi baik dalam performa ataupun kerjasama demi tercapainya tujuan bersama. Ketiga, mencoba hal baru, berusaha untuk meningkatkan apa yang anda miliki, keluar dari comfort zone. Memiliki keberaniaan untuk terus berguru dan belajar, tidak praktis mengalah dan terus berusaha menjadi yang terbaik dengan menyebabkan kesalahan-kesalahan sebagai pengalaman berharga yang berfungsi untuk membantu tumbuh dan kembang diri dan organisasi. Keempat, tidak segan untuk meminta santunan dari orang lain atau sekitar, pemimpin memerlukan pendapat, saran dan feedback dari orang-orang sekitarnya, hal ini akan membantunya untuk tetap tumbuh dan berkembang, sekaligus menjadi media untuk memupuk rasa saling percaya dalam organisasi. Kelima praktek terus menerus, Anda tidak akan bisa menjadi lebih baik tanpa adanya praktek dan latihan yang berkesinambungan, sehingga praktek atau training akan selalu dibutuhkan meskipun Anda telah menjadi pimpinan senior.

Selanjutnya Anda perlu menyadari bahwa ialah hal yang penting bagi Anda untuk memakai gaya kepemimpinan yang paling mencerminkan diri Anda sendiri, Anda tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain, percayalah pada diri sendiri. Dan ingatlah bahwa kepemimpinan dan pemimpin bukan wacana posisi atau personality atau talenta yang Anda punya tapi menjadi pemimpin ialah wacana tindakan dan agresi untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik.

D.  DAFTAR PUSTAKA

Kouzes, M. James, Posner, Z. Barry. 2016. Learning Leadership: The Five Fundamentals of Becoming and Exemplary Leader. San Francisco: The Leadership Challenge: A Wiley Brand.

Sumber http://samplingkuliah.blogspot.com

Tuesday, July 25, 2017

√ Operasional Administrasi Sekolah

THE OPERATIONAL FOCUS OF SCHOOLING: LEARNING AND TEACHING
 (Fokus Operasional Sekolah: Pembelajaran dan Pengajaran)


A.    Operasional Sekolah
1.      Pengertian Operasional Sekolah
Menurut Rhonda Abrams & Alice Laplante dalam Setiawan (2015)  Operasional merupakan aspek yang terpenting lantaran tanpa adanya operasional, maka tidak ada yang bisa dikerjakan.
Definisi Kegiatan Operasional dalam pengertianmenurutparaahli.net (2016) ialah kegiatan inti dari suatu bisnis ataupun organisasi untuk menghasilkan pendapatan serta untuk tetap terus menjalankan kegiatan bisnisnya.
Pengertian sekolah ialah suatu forum yang memang dirancang khusus untuk pengajaran para murid (siswa) di bawah pengawasan para guru. Sedangkan sekolah sebagai bentuk organisasi berdasarkan Kurniawan (2012) diartikan sebagai wadah dari kumpulan insan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu yakni tujuan pendidikan, dengan  memanfaatkan insan itu sendiri sebagai sumber daya, di samping yang ada di luar dirinya, menyerupai uang, material, dan waktu.
Berdasarkan uraian di atas sanggup disimpulkan operasional sekolah ialah kegiatan inti suatu organisasi untuk menghasilkan sumber daya/lulusan yang bermutu untuk tujuan pendidikan.

B.     Pembelajaran dan Pengajaran
1.      Pengertian Pembelajaran dan Pengajaran
Belajar ialah proses perubahan sikap berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan ialah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. (Djamarah dan Aswan Zain, 2006, hlm. 10-11).
Menurut Witherington dalam Sukmadinata (2003, hlm. 155) mencar ilmu merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang gres berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.
Menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 wacana Sisdiknas, pembelajaran ialah proses interaksi penerima didik dengan pendidik dan sumber mencar ilmu pada suatu lingkungan belajar.
Menurut Komalasari (2010, hlm. 3) Pembelajaran sanggup didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis semoga subjek didik/pembelajar sanggup mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Menurut Istiqomah (2011) Pembelajaran ialah membelajarkan siswa memakai asas pendidikan maupun teori mencar ilmu merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan mencar ilmu dilakukan oleh penerima didik atau murid.
Menurut Istiqomah (2011) pengajaran sama artinya dengan kegiatan mengajar. Kegiatan mengajar dilakukan oleh guru untuk memberikan pengetahuan kepada siswa. Dalam konsep ini, guru bertindak dan berperan aktif bahkan sangat menonjol dan bersifat menentukan segalanya. Pengajaran sama artinya dengan perbuatan mengajar. Sedangkan pengajaran sebagai suatu sistem. Pengertian pengajaran pada hakikatnya lebih luas dan bukan hanya sebagai suatu proses atau mekanisme belaka. Pengajaran ialah suatu sistem yang luas, yang mengandung dan dilandasi oleh banyak sekali dimensi, yakni :
a.       Profesi guru,
b.      Perkembangan dan pertumbuhan siswa/peserta didik,
c.       Tujuan pendidikan dan pengajaran,
d.      Program pendidikan dan kurikulum,
e.       Perencanaan pengajaran,
f.       Strategi mencar ilmu mengajar,
g.      Media pengajaran,
h.      Bimbingan belajar,
i.        Hubungan antara sekolah dan masyarakat, dan
j.        Manajemen pendidikan/kelas.
Menurut Purwadinata (1967, hlm 22) istilah “pembelajaran” sama dengan “instruction atau “pengajaran”. Pengajaran mempunyai arti cara mengajar atau mengajarkan. Dengan demikian pengajaran diartikan sama dengan perbuatan mencar ilmu (oleh siswa) dan Mengajar (oleh guru).
Sedangkan berdasarkan Daryanto (1997) menjelaskan bahwa pengajaran ialah proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan perihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar, peringatan (tentang pengalaman, kejadian yang dialami atau dilihatnya).
Berdasarkan beberapa pengertian sanggup disimpukan Pembelajaran merupakan sebuah proses mengajar yang disampaikan oleh pengajar melalui sistem yang direncanakan dan didesain untuk meyampaikan pikiran atau wangsit kepada pembelajar semoga tercapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. Sedangkan pengajaran adalah cara proses kegiatan mengajar yang dilakukan guru.
2.      Perbedaan Antara Pembelajaran dan Pengajaran
Menurut Siregar dan Nara (2010, hlm. 13-14) perbedaan antara istilah “pembelajaran” (instruction) dan “pengajaran” (teaching) sanggup diamati pada tabel berikut ini.
No.
Pengajaran
Pembelajaran
1.
Dilaksanakan oleh mereka yang berprofesi sebagai pengajar
Dilaksanakan oleh mereka yang sanggup membuat orang belajar
2.
Tujuannya memberikan informasi kepada si belajar
Tujuannya semoga terjadi mencar ilmu pada siswa/siswi belajar
3.
Merupakan salah satu penerapan taktik pembelajaran
Merupakan cara untuk berbagi planning yang teroganisir untuk keperluan belajar
4.
Kegiatan mencar ilmu berlangsung bila adaa guru/pengajar
Kegiatan mencar ilmu sanggup berlangsung dengan atau tanpa hadirnya guru
Dari pengertian serta tabel diatas maka sanggup dikatakan bahwa istilah “pembelajaran” (instruction) lebih luas dari pada “pengajaran” (teaching). Pembelajaran harus menghasilkan mencar ilmu pada penerima didik dan harus dilakukan suatu perencanaan yang sistematis, sedangkan mengajar hanya salah satu penerapan taktik pembelajaran diantara strategi-strategi pembelajaran yang lain dengan tujuan utamanya memberikan informasi kepada penerima didik. Jika diperhatikan, perbedaan kedua istilah ini bukanlah hal yang sepele, tetapi telah menggeser paradigma pendidikan, dari yang semula (teacher centered) kepada (student centered). Kegiatan pendidikan yang semula lebih berorientasi pada “mengajar” (guru yang lebih banyak berperan) telah berpindah kepada konsep “pembelajaran” (merencanakan kegiatan-kegiatan yang orientasinya kepada siswa semoga terjadi mencar ilmu dalam dirinya).

3.      Prinsip – Prinsip Pembelajaran
Pada pelaksanaan pembelajaran, supaya sanggup mencapai hasil yang optimal perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran. Prinsip pembelajaran dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang diambil dari teori psikologi terutama teori mencar ilmu dan hasil-hasil penelitian dalam proses pembelajaran. Prinsip pembelajaran bila diterapkan dalam proses pengembangan pembelajaran dan proses pelaksanaan pembelajaran akan diperoleh hasil yang optimal. Selain itu sanggup meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara menawarkan dasar-dasar teori untuk membangun sistem intruksional yang berkualitas tinggi.


Menurut Gagne dalam buku Condition of Learning dalam Kustandi (2015) mengemukakan sembilan prinsip yang sanggup dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran, sebagai berikut:
1)      Menarik perhatian (gaining attention): hal yang menjadikan minat siswa dengan mengemukakan sesuatu yang baru, aneh, kontradiksi, atau kompleks.
2)      Menyampaikan tujuan pembelajaran (informing learner of the objectives): memberitahukan kemampuan yang harus dikuasai siswa sesudah selesai mengikuti pelajaran.
3)      Mengingatkan konsep/prinsip yang telah dipelajari (stimulating recall or prior learning): merangsang ingatan wacana pengetahuan yang telah dipelajari yang menjadi prasyarat untuk mempelajari materi yang baru.
4)      Menyampaikan materi pelajaran (presenting the stimulus): memberikan materi-materi pembelajaran yang telah direncanakan.
5)      Memberikan bimbingan mencar ilmu (providing learner guidance): menawarkan pertanyaan-pertanyaan yamng membimbing proses/alur berpikir siswa semoga mempunyai pemahaman yang lebih baik.
6)      Memperoleh kinerja/penampilan siswa (eliciting performance): siswa diminta untuk memperlihatkan apa yang telah dipelajari atau penguasaannya terhadap materi.
7)      Memberikan balikan (providing feedback): memberitahu seberapa jauh ketepatan performance siswa.
8)      Menilai hasil mencar ilmu (assessing performance): memberitahukan tes/tugas untuk mengetahui seberapa jauh siswa menguasai tujuan pembelajaran.
9)      Memperkuat retensi dan transfer mencar ilmu (enhancing retention and transfer): merangsang kamampuan mengingat-ingat dan mentransfer dengan menawarkan rangkuman, mengadakan review atau mempraktekkan apa yang telah dipelajari.
Sedangkan prinsip pembelajaran yang dikemukakan Atwi Suparman dengan mengadaptasi pemikiran Fillbeck dalam Kustandi (2015), sebagai berikut:
1)      Respon-respon gres (new responses) diulang sebagai akhir dari respon yang terjadi sebelumnya. Implikasinya ialah perlunya pemberian umpan balik positif dengan segera atas keberhasilan atau respon yang benar dari siswa, siswa harus aktif membuat respon, tidak hanya duduk membisu dan mendengarkan saja.
2)      Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akhir dari respons, tetapi juga dibawah imbas kondisi atau gejala di lingkungan siswa. Implikasinya ialah perlunya menyatakan tujuan pembelajaran secara terperinci kepada siswa sebelum pelajaran dimulai semoga siswa bersedia mencar ilmu lebih giat. Juga penggunaan banyak sekali metode dan media semoga sanggup mendorong keaktifan siswa dalam proses belajar.
3)      Perilaku yang ditimbulkan oleh gejala tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akhir yang menyenangkan implikasinya ialah pemberian isi pembelajaran yang berkhasiat pada siswa di dunia luar ruangan kelas dan menawarkan balikan (feedback) berupa penghargaan terhadap keberhasilan mahasiswa. Juga siswa sering diberikan latihan dan tes semoga pengetahuan, keterampilan dan sikap yang gres di kuasainya sering di munculkan pula.
4)      Belajar yang berbentuk respon terhadap gejala yang terbatas akan di transfer kepada situasi lain yang terbatas pula. Implikasinya ialah pemberian kegiatan mencar ilmu kepada siswa yang melibatkan gejala atau kondisi yang menyerupai dengan kondisi dunia nyata. Juga penyajian isi pembelajaran perlu diperkaya dengan penggunaan banyak sekali contoh penerapan apa yang telah dipelajarinya. Penyajian isi pembelajaran perlu memakai banyak sekali media pembelajaran menyerupai gambar, diagram, film, rekaman audio/ video, computer, serta banyak sekali metode pembelajaran menyerupai stimulasi, dramatisasi dan lain sebagainya.
5)      Belajar menggeneralisasikan dan membedakan ialah dasar untuk mencar ilmu sesuatu yang kompleks menyerupai yang berkenaan dengan pemecahan masalah. Implikasinya ialah perlu dipakai secara luas bukan saja contoh-contoh yang positif, tetapi juga yang negatif.
6)      Situasi mental siswa untuk menghadapi pelajaran akan mensugesti perhatian dan ketekunan siswa selama proses siswa belajar. Implikasinya ialah pentingnya menarik perhatian siswa untuk mempelajari isi pembelajaran, antara lain dengan memperlihatkan apa yang akan dikuasai siswa sesudah selesai proses belajar, bagaimana memakai apa yang dikuasainya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana mekanisme yang harus diikuti atau kegiatan yang harus dilakukan siswa semoga mencapai tujuan pembelajaran dan sebagainya.
7)      Kegiatan mencar ilmu yang di bagi menjadi langkah-langkah kecil dan di sertai umpan balik menuntaskan tiap langkah, akan membantu siswa. Implikasinya ialah guru harus menganalisis pengalaman mencar ilmu siswa menjadi kegiatan-kegiatan kecil, disetai latihan dan balikan terhadap hasilnya.
8)      Kebutuhan memecah materi yang kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil sanggup dikurangi dengan mewujudkannya dalam suatu model. Implikasinya ialah penggunaan media dan metode pembelajaran yang sanggup menggambarkan materi yang kompleks kepada siswa menyerupai model, realias, film, jadwal video, komputer, drama, demonstrasi dan lain-lain.
9)      Keterampilan tingkat tinggi (kompleks) terbentuk dari keterampilan dasar yang lebih sederhana. Implikasinya ialah tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk hasil mencar ilmu yang operasional. Demonstrasi atau model yang dipakai harus di rancang semoga sanggup menggambarkan dengan terperinci komponen-komponen yang termasuk dalam perilaku/keterampilan yang kompleks itu.
10)  Belajar akan lebih cepat, efisien dan menyenangkan bila siswa diberi informasi wacana kualitas penampilannya dan cara meningkatkannya. Urutan pembelajaran harus dimulai dari yang sederhana secara sedikit demi sedikit menuju kepada yang lebih kompleks kemajuan siswa alam menuntaskan pembelajaran harus di informasikan kepadanya.
11)  Perkembangan dan kecepatan siswa sangat bervariasi, ada yang maju dengan cepat ada yang lebih lambat. Implikasinya ialah pentingnya penguasaan siswa terhadap materi prasyarat sebelum mempelajari materi pembelajaran selanjutnya, siswa menerima kesempatan maju berdasarkan kecepatannya masing-masing.
12)  Dengan persiapan, siswa sanggup berbagi kemampuan mengorganisasi kegiatannya sendiri dan menjadikan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar. Implikasinya ialah pemberian kemungkinan bagi siswa untuk menentukan waktu, cara dan sumber-sumber disamping yang telah ditentukan, semoga sanggup membuat dirinya mencapai tujuan pembelajaraan.






A.    Manajemen Operasional Sekolah
1.      Pengertian Manajemen Operasional Sekolah
Pengertian manajemen operasional sekolah tentu tidak terlepas dari manajemen pada umumnya, yaitu mengandung unsur adanya kegiatan yang dilakukan dengan mengkoordinasikan banyak sekali kegiatan dan sumber daya untuk tercapainya tujuan tertentu. Manajemen operasional pendidikan merupakan proses yang secara berkesinambungan dan efektif memakai fungsi–fungsi manajemen untuk mengintegrasikan banyak sekali sumber daya sekolah secara efisien dalam rangka mencapai tujuan.
Unsur pokok dalam pengertian tersebut di atas sanggup dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, Kontinyu, artinya manajemen operasional sekolah bukan suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Keputusan manajemen bukan hanya tindakan sesaat, melainkan tindakan yang berkelanjutan atau merupakan suatu proses yang kontinyu.
Kedua, Efesien, artinya manajemen operasional sekolah merupakan suatu kegiatan yang menekanankan pemanfaatan sumber daya semaksimal mungkin (high utilization). Sumber daya dalam menajemen operasional meliputi insan (man) dengan motivasinya, modal (money), metoda (method), mesin (machine), manajerial, informasi (management information system-MIS), mutu, serta kemampuan organisasi dengan melihat peluang pasar (market). Hasil tamat kualitas pengelolaan forum pendidikan bisa dilihat pada keuntungan  yang  diperoleh pengelola lembaga. Manajer dituntut untuk mempunyai kemampuan bekerja efisien supaya sanggup mengoptimalkan penggunaan sumber daya, sehingga kegiatan manajemen operasi harus mempunyai tujuan, yaitu menghasilkan suatu keluaran sesuai dengan yang direncanakan, yaitu barang atau jasa.
Ketiga, Efektif, artinya segala pekerjaan harus dilakukan secara sempurna dan sebaik–baiknya, serta mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan. Kegiatan manajemen operasional sekolah diharapkan pengetahuan luas lantaran meliputi banyak sekali fungsi menejemen menyerupai perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian. Dalam pelaksanaannya semua sumber daya menyerupai manusia, modal, material, mesin, manajemen atau metoda, energi dan informasi diintegrasikan untuk menghasilkan barang atau jasa. Namun produk utama sekolah ialah pelayanan jasa pendidikan. Integrasi tersebut menggabungkan  dua atau lebih sumber daya dari kombinasi yang terbaik.

2.      Fungsi Manajemen
Agar menghasilkan jasa pendidikan yang diharapkan maka pengelolaan sumber daya dan kegiatan dalam manajemen operasional sekolah meliputi penggunaan fungsi manajemen.
a.       Perencanaan
Dalam perencanaan (planning), manajer dalam hal ini Kepala Sekolah menentukan tujuan dari subsistem operasi dari organisasi dan berbagi program, kebijakan dan mekanisme yang diharapkan untuk mencapai tujuan. Tahapan ini meliputi penentuan peranan dan fokus dari operasi. Pihak pengelola harus sanggup melaksanakan perencanaan dengan matang dan baik.
b.      Pengorganisasian
Dalam pengorganisasian (organizing) manajer/kepala sekolah menentukan struktur individu, grup, seci, bagian, divisi atau departemen dalam subsistem operasi untuk mencapai tujuan organisasi. Manajer operasi juga menentukan kebutuhan sumber daya yang diharapkan dalam mencapai tujuan operasi serta mengatur wewenang serta tanggung jawab yang diharapkan dalam melaksanakannya.
c.       Penggerakan
Fungsi penggerakan (directing/actuating) dilakukan dengan memimpin, mengawasi, memotivasi guru untuk melaksanakan tugasnya. Dalam melaksanakan transformasi sumber daya sangat diharapkan efektifitas dan efisiensi penggerakkan. Pengelola sekolah harus menerapkan fungsi penggerakan pada seluruh  kegiatan dan aktifitas dengan sebaik-baiknya.
d.      Fungsi pengendalian
Fungsi pengendalian (evaluating/controling) dilaksanakan dengan berbagi standar dan jaringan komunikasi yang diharapkan supaya pengorganisasian serta penggerakan sesuai dengan apa yang direncanakan sanggup mencapai tujuan.
e.       Proses Transformasi
Kegiatan operasional merupakan kepingan dari kegiatan organisasi yang melaksanakan proses transformasi dari masukan (input) menjadi keluaran (output), masukan berupa semua sumber daya yang diperlukan. Proses menyerupai ini biasanya dilengkapi dengan kegiatan umpan balik untuk memastikan bahwa keluaran yang diperoleh sesuai dengan yang dikehendaki.

3.      Sumber  Input
Sumber input yaitu lokasi dimana sumber daya input suatu forum dibutuhkan. Contoh lokasi sumber daya untuk jenis insan menyerupai guru umumnya berasal dari fakultas keguruan di universitas. Sedangkan sumber input keuangan sanggup diperoleh dari dukungan pemerintah, investor, bank Syariah atau bank konvensional lainnya. Keadaan input sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi secara umum, perkembangan teknologi, pengetahuan, masyarakat dan kondisi sosial politik.

4.      Bahan Input  
Seluruh kegiatan pada manajemen operasi memerlukan suatu input dari sumber di luar sekolah. Sumber daya yang diharapkan sebagai input sanggup berupa:
a.       Manusia, yaitu meliputi: siswa, guru, pihak manajemen, pegawai manajemen dll
b.      Kurikulum atau manhaj tarbiyah, yaitu meliputi kurikulum dan seperangkat peraturan wacana kurikulum baik dari sekolah mapun berasal dari luar sekolah.
c.       Media pendidikan, yaitu media menyerupai papan tulis, overhead projector, papan tulis dll
d.      Metode mengajar, yaitu taktik proses mencar ilmu mengajar yang telah dikembangkan sehinga sanggup dipakai oleh guru.
e.       Material, yaitu meliputi buku, pulpen, spidol, penggaris dll
f.       Modal, yaitu segala yang bekerjasama dengan modal dan keuangan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan sekolah.
g.      Informasi, yaitu segala bentuk informasi yang dipakai untuk menjalankan sekolah sehingga sanggup menghasilkan output yang dapat   memuaskan pelanggan.
Karena materi input dari sumber tidak pribadi sanggup dipakai dalam proses transformasi, maka seringkali dilaksanakan proses penyesuaian (konversi), sehingga organisasi harus melaksanakan seleksi untuk menyakinkan input dari sumber berkualitas baik dan siap untuk digunakan. Contoh perlunya penyesuaian input dari sumbernya, yaitu tidak semua lulusan perguruan tinggi tingi pribadi diterima. Berarti organisasi sekolah harus bisa membuat filter dan sistem seleksi input yang baik.
Kegiatan umpan balik dilaksanakan dengan pengecekan pada beberapa titik kunci dan membandingkannya dengan standar atau contoh yang sudah ditetapkan apabila terjadi ada perbedaan antara hasil (keluaran) dan standar, maka diharapkan tindakan koreksi, sanggup berupa perbaikan dalam komponen masukan atau penyempurnaan dalam proses produksi sehingga outputnya sanggup sesuai dengan yang diharapkan.    

5.      Komponen Sistem Organisasi
Untuk melaksanakan proses transformasi, organisasi memerlukan sistem yang organisasi meliputi:
a.       Tujuan, yaitu tujuan yang ingin dihasilkan dalam teknologi transformasi harus jelas. Organisasi harus menetapkan hasil apakah yang diharapan, kemudian mentukan jenis input apakah yang akan digunakan. Untuk variasi jenis input sanggup dari dua atau lebih jenis sumber input. Semakin banyak materi yang dibutuhkan dalam proses transformasi maka semakin rumit sistemnya.
b.      Disetiap organisasi mempunyai arah pendidikan yang berbeda. Ada sekolah yang menekankan aspek agama, kesenian dan ilmu pengetahuan. Atau sebuah sekolah didesain untuk kalangan menengah ke atas. Semua adalah    tergantung segmentasi organisasi dalam memperoleh pasar yang lebih luas.
c.       Kultur, yaitu budaya dan kondisi yang dianut dalam organisasi. Setiap organisi mempunyai budaya yang berbeda dan unik, setiap insan yang masuk dalam sebuah sekolah niscaya akan mengikuti keadaan dengan budaya dan kebiasaan organisasi yang telah ada.
d.      Struktur, yaitu struktur organisasi yang dipakai untuk mengelola sekolah tersebut. Ada organisasi yang menekankan pada fungsi dan ada organisasi yang menekankan pada hirarki. Desain organisasi sangat dipengaruhi oleh kultur dan paradigma yang dimiliki oleh pengelola lembaga.
e.       Sistem, yaitu seperangkat peraturan, pedoman, kebijakan dan prosedur   yang dipakai untuk mengatur bagaimana sekolah harus dijalankan.
f.       Proses, yaitu tahapan sistem pengelolaan yang akan dilalui oleh input sehingga menjadi output yang diharapkan. 
Keenam komponen sistem tersebut dipakai untuk mengolah input menjadi output, sehingga menjadi jasa pendidikan yang dibutuhkan masyarakat.

6.      Output Transformasi
Dalam suatu organisasi sekolah, output utamanya berupa jasa pendidikan. Sedangkan output yang bersifat barang menyerupai media yang dibentuk oleh guru, namun itu bukanlah output utama.  Karena yang dinikmati oleh pengguna ialah penggunaan medianya.
Jadi output paling utama sekolah yaitu sejauhmana kompetensi murid yang telah lulus dibandingkan dengan tujuan kurikulum yang telah ditetapkan. Indikator yang paling gampang untuk mengukur output adalah:
a.       Jumlah siswa yang lulus
b.      Jumlah siswa yang naik kelas
c.       Nilai rata-rata sekolah
d.      Nilai tertinggi sekolah
e.       Nilai dari hasil kejuaraan sebuah kopetisi yang diperoleh sekolah atau murid  dalam sebuah regional atau nasional
f.       Jumlah murid yang sanggup menghafal quran atau berapa banyak ayat Al Alquran yang telah di hafal oleh siswa pada tamat jadwal (pada sekolah yang menekankan agama)
g.      Output dari proses transformasi ini seringkali juga tidak sanggup pribadi dipakai oleh pengguna, sehingga diharapkan pembiasaan pada lingkungan pengguna (interface).
                                                                                              
7.      Pengguna (customer)
Pada kesudahannya penggunalah dan stakeholder yang menilai apakah sekolah telah berhasil atau belum. Pengguna menilai keberhasilan sistem pendidikan dengan cara membandingkan hasil tersebut dengan standar yang terdapat pada:
a.       Nilai-nilai yang dianut masyarakat
b.      Nilai-nilai yang dianut individu
c.       Nilai-nilai organisasi professional
d.      Kondisi lingkungan teknologi, politik dan ekonomi.
Setelah pengguna mencicipi hasil keluaran sekolah, kemudian menawarkan umpan balik ke sekolah atau ke sumber input yang mensugesti input sekolah.

8.      Aktifitas Administrasi Manajemen Sekolah
Dengan memperhatikan proses dan fungsi manajemen tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan manajemen sekolah ialah proses manajemen dari semua komponen yang dilaksanakan di sekolah. Manajemen sekolah tidak terlepas dari kedudukan manajemen pendidikan dalam sistem pendidikan di sekolah.
Arah kegiatan organisasi dalam melaksanakan kegiatannya, maka sekolah  harus berfikir jauh kedepan untuk memenuhi arah kebutuhan pengguna. Sementara organisasi bertindak dari yang hal terkecil menuju yang besar. Dalam kaidah manajemen disebut dengan berfikir besar dan memulai dari yang kecil-kecil dan mulai kini juga (big think, start small, act now).
Tugas dan kewajiban administratif mengenai bidang–bidang operasional di sekolah sanggup dikelompokkan jadi beberapa komponen dalam sekolahalam-amani.blogspot.co.id (2011), yaitu:
a.       Kegitan Umum
Sebagai komponen yang umum dalam manajemen sekolah, salah satu kiprah garapannya terletak pada para pejabat dan kepala sekolah. Kegiatan perkantoran  atau manajemen manajemen pada setiap organisasi sekolah, yaitu untuk mengkoordinasikan perjuangan orang–orang kearah tercapainya tujuan pendidikan pengajaran di sekolah dengan efektif dan efisien. Tujuan ini bekerjasama dengan kegiatan mencar ilmu mengajar. Struktur organisasi sekolah diubahsuaikan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan daya dukung staf, kelembagaan, pekerjaan yang ada.
b.      Kurikulum
Sekolah pada semua tingkatannya telah menyusun jadwal pendidikan yang dibangun diatas bidang-bidang pengetahuan yang berdiri sendiri. Segi kurikulum dari jadwal itu meliputi hal-hal seperti: mata pelajaran mana yang hendak disajikan dan untuk maksud instruksional khusus apa, dan pengetahuan lain yang pribadi bekerjasama dengan pengajaran. Penyusunan suatu jadwal pendidikan di sekolah tergantung pada asas, pertimbangan, nilai dan teori yang bekerjasama dengan:
1)      Tujuan pendidikan secara umum
2)      Sifat dan penggunaan pengetahuan
3)      Konsep dan teknologi wacana belajar
4)      Ketenagaan
c.       Administrasi
Tugas bidang garapan manajemen ketenagaan:
1)      Memperlancar jadwal supervisi pendidikan
2)      Membantu pengisian identitas kepegawaian
3)      Memperlancar kebijaksanaan dalam kepegawaian seperti: kenaikan pangkat dan lain-lain.
d.      Kesiswaan
Tugas dan kewajiban Pengadministrasian kesiswaan meliputi :
1)      Mengatur  proses mencar ilmu mengajar (PMB)
2)      Mempertimbangkan syarat kenaikan kelas atau kelulusan
3)      Menyusun tata tertib sekolah
4)      Mengawasi dan membimbing organisasi siswa
5)      Pelaksanaan kegiatan upacara sekolah
e.       Ketatausahaan sekolah
Tugas kepingan ketatausahaan ini meliputi:
1)      Perencanaan penggunaan ruang belajar
2)      Menyusun kalender pendidikan
3)      Notulen rapat sekolah
4)      Pengelolaan perpustakaan sekolah
5)      Kegiatan persuratan
6)      Program kesejahteraan personil
7)      Sarana dan prasarana pendidikan
8)      Inventarisasi alat-alat peraga, Olah raga, kesenian, PKK, dll.
9)      Merencanakan dan mengusahakan buku pegangan untuk guru dan siswa.
10)  Pengaturan penggunaan laboratorium
11)  Kegiatan/penertiban lingkungan
f.       Keuangan dan pembiayaan sekolah
Tugas umum kepingan keuangan dan pembiayaan ialah sebagai berikut:
1)      Penyusunan planning anggran pendapatan dan belanja
2)      Pengaturan segala dana/biaya rutin ataupun SPP,dll
g.      Hubungan sekolah dan masyarakat
Fungsi relasi sekolah dengan masyarakat adalah:
1)      Adanya koordinasi
2)      Pengabdian pada masyarakat
3)      Ikut berpartisipasi dalam kegiatan/gerakan kebersihan, keindahan, dll
4)      Pertemuan dengan BP3 atau orang renta murid.
h.      Pengawasan dan evaluasi
Tugas dan fungsi kepingan pengawasan dan penilaian adalah:
1)      Pembinaan dari seluruh kegiatan PBM
2)      Pembinaan dan peningkatan profesi mengajar
3)      Pengawasan melekat
4)      Penilaian yang kontinu dari segala kegiatan (edukatif dan non edukatif)

B.     Fokus Operasional Sekolah dalam Pembelajaran dan Pengajaran
Pembelajaran dan pengajaran di sekolah merupakan salah satu fokus operasional sekolah. Sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang sanggup menghasilkan lulusan dengan bermacam-macam tingkat kemampuan, pengetahuan serta nilai atau sikap yang memungkinkan untuk menjadi warga masyarakat dan warga negara yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, beriman dan berbudi pekerti luhur. Tujuan tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari tenaga kependidikan yang professional yaitu guru dalam menawarkan pembelajaran dan pengajaran sebagai fokus operasional sekolah dalam menghasilkan lulusan yang bermutu.
            Tingkat kualitas guru dalam membelajarkan penerima didik inilah yang mengakibatkan tingginya kualitas pembelajaran, sehingga berdampak kepada tingginya kualitas forum pendidikan di sekolah. Proses kegiatan mencar ilmu yang dilaksanakan sekolah bersifat formal disengaja, direncanakan, dengan bimbingan guru, serta pendidik lainnya. Kegiatan mencar ilmu tersebut sangat diperlukan, melihat keadaan ketika ini, semakin banyaknya dan semakin tingginya tuntutan hidup masyarakat. Semakin tinggi taraf perkembangan masyarakat maka semakin tinggi dan banyak tuntutan yang harus dipenuhi dan semakin banyak waktu mencar ilmu yang harus ditempuh.
Menurut Sukmadinata (2003, hlm. 178) pelaksanaan pengajaran dengan pemfokusan kepada mencar ilmu proses dilatarbelakangi oleh konsep-konsep mencar ilmu berdasarkan teori Naturalisme-Romantisme dan teori Kognitif-Gestalt. Naturalisme-Romantisme lebih menekankan kepada aktifitas siswa sedangkan kosep teori kognitif-gestalt menekanan pemahaman dan kesatupaduan yang menyeluruh.
Dalam pelaksanaan pengajaran yang menekankan proses berdasarkan Sukmadinata (2003, hlm. 178-179) kini dikenal pula dengan keterampilan proses, guru membuat bentuk pengajaran yang bervariasi semoga siswa terlibat dalam banyak sekali pengalaman. Siswa diminta untuk merencanakan, melaksanakan dan menilai sendiri hasil suatu kegiatan. Siswa melaksanakan pengamatan, percobaan, pengukuran, perhitungan dan membuat kesimpulan sendiri. Dalam mencar ilmu model ini, siswa tidak hanya mencar ilmu dari guru, tetapi juga dari sesama temannya dari manusia-manusia sumber diluar sekolah
Belajar merupakan suatu upaya pengembangan seluruh kepribadian individu, baik dari segi fisik maupun psikis. Dalam proses mencar ilmu disekolah, target mencar ilmu menyerupai ini sering dirumuskan sebagai tujuan pelajaran atau tujuan instruksional. (Aniyah, 2012, hlm. 1).
Tujuan mencar ilmu berdasarkan target mencar ilmu sudah diatur dalam TAP MPR Nomor II tahun 1988, tujuan tersebut adalah: ’’Pendidikan nasional berdasaran pancasila, bertujuan untuk meningkatan kualitas insan Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, disiplin, bekerja keras, tangguh, beranggung jawab, mandiri, cerdas terampil serta sehat jasmani dan rohani. Disamping itu, pendidikan nasional juga harus bisa menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta pada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan, dan rasa kesetiakawanan sosial. (Sukmadinata, 2003, hlm. 179)
Sejalan dengan hal tersebut, dikembangkan iklim mencar ilmu mengajar yang bisa menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri serta mempunyai sikap dan sikap inovatif dan kreatif. Dengan demikian pendidikan nasional akan bisa mewujudkan sumber daya pembangunan yang bisa membangun dirinya sendiri serta gotong royong bertanggung jawab pada pembangunan bangsa.
Sekolah merupakan forum pendidikan kawasan berlangsungnya kegiatan mencar ilmu harus bisa memenuhi  rasa kepuasan mencar ilmu penerima didik, lantaran merekalah yang menjadi konsumen penting dalam menawarkan jasa layanan pendidikan. Semua sarana dan prasaran maupun jadwal disusun untuk kepentingan dan fasilitas mereka belajar. Tanpa keberdaan mereka semua unsur yang ada di sekolah menjadi kurang berfungsi.
Ada dua pendekatan di dalam pelaksanaan pengajaran di sekolah berdasarkan Sukmadinata (2003, hlm. 178), yaitu pendekatan yang mengutamakan hasil mencar ilmu dan yang menekankan proses belajar. Sebab suatu hasil mencar ilmu yang baik akan diperoleh melalui proses yang baik, dan sebaliknya proses mencar ilmu yang baik akan memberi hasil yang baik pula.
Kepuasan penerima didik merupakan tujuan dan fokus operasional dari layanan mencar ilmu di sekolah. Anak yang menerima kepuasan akan terlihat dari sikapnya yang positif terhadap pelajaran yang diterima oleh gurunya. Anak memperlihatkan sikap positif dalam bentuk sikap dikarenakan telah memperoleh apa yang diinginkannya, mereaksi positif, bebas keluhan terhadap proses mengajar dari gurunya. Indikator kepuasan anak sanggup terlihat dari Indikator individual dan indikator kelompok.   
Menurut J.B Carrol dalam Suhardan (2014, hlm. 109) Indikator individu terdiri dari:
1.      Setiap anak mendapatkan pelajaran dari guru dengan rasa suka cita tanpa tegang dan stress.
1.      Mengerjakan kiprah secara independen.
2.      Tidak ada keluhan yang berarti dalam mengerjakan tugas.
3.      Mengikuti pembelajaran dengan aktif dan arif.
4.      Efektifitas mencar ilmu tinggi sesuai waktu.
5.      Belajar berdasarkan mekanisme sistematika yang telah ditetapkan.
6.      Tinggi kapasitas pemahaman cara mengerjakan kiprah belajarnya.
Kepuasan mencar ilmu pada tingkat kelas berdasarkan Suhardan (2014, hlm. 110) sanggup diketahui dari:
1.      Norma dan hukum mencar ilmu dalam kelas dipatuhi, tak ada pelanggaran.
2.      Duduk dan konsentrasi serius terhadap kiprah yang harus dikerjakan, rendah jumlah anak yang mondar-mandir tanpa tujuan.
3.      Rendah frekuensi pengarahan guru, besar kegiatan kelas mengerjakan tugas.
4.      Mengerjakan kiprah berdasarkan keperluan materi mencar ilmu dan petunjuk mencar ilmu yang semestinya.
5.      Sedikit waktu yang dipakai untuk membentuk disiplin dalam mengelola kelas.
6.      Anak menyukai pelajaran yang diberikan gurunya.
7.      Bangga atas prestasi yang diperolehnya.


A. Kesimpulan
Manajemen operasional pendidikan merupakan proses yang secara berkesinambungan dan efektif memakai fungsi–fungsi manajemen untuk mengintegrasikan banyak sekali sumber daya sekolah secara efisien dalam rangka mencapai tujuan. Unsur–unsur pokok dalam pengertian tersebut yaitu Kontinyu, Efesien dan Efektif.
Pengelolaan sumber daya sehingga menghasilkan jasa pendidikan yang diharapkan, maka kegiatan dalam manajemen operasional sekolah meliputi penggunaan fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan fungsi pengendalian, dan proses transformasi.
Pembelajaran dan pengajaran di sekolah merupakan salah satu fokus operasional sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang sanggup menghasilkan lulusan yang bermutu. Tingkat kualitas guru dalam membelajarkan penerima didik inilah yang mengakibatkan tingginya kualitas pembelajaran, sehingga berdampak kepada tingginya kualitas forum pendidikan di sekolah. Kepuasan penerima didik merupakan tujuan dan fokus operasional dari layanan mencar ilmu di sekolah.
Proses pembelajaran dan pengajaran terhadap siswa merupakan tahapan sistem pengelolaan yang akan dilalui oleh input sehingga menjadi output yang diharapkan. Proses tersebut tersebut dipakai untuk mengolah input menjadi output, sehingga menjadi jasa pendidikan yang dibutuhkan masyarakat.





DAFTAR PUSTAKA

Aniyah, Siti. (2012). Upaya Peningkatan Pembelajaran Kimia pada Materi Pemisahan Kimia melalui Metode Praktikum Berbasis Laboratorium Kelas VII MTs Hidayatus Syubban Genuk. Skripsi Sarjana IAIN Walisongo. Diakses dari: aciknadzirah.blogspot.com/search?q=kebutuhan-operasional-sekolah">http://disinideddyck.blogspot.co.id/2012/11/kebutuhan-operasional-sekolah. html
Kustandi, C. (2105). Prinsip Pembelajaran. Diakses dari: https://cecepkustandi.wordpress.com/2015/06/29/prinsip-pembelajaran/
Pengertianmenurutparaahli.net. (2016). Pengertian Kegiatan Operasional Perusahaan. Diakses dari: http://www.pengertianmenurutparaahli.net/ pengertian-kegiatan-operasional-perusahaan/
Purwadinata. (1967). Psikologi Pendidikan dengan Pendidikan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sekolahalam-amani.blogspot.co.id. (2011). Manajemen Operasional Sekolah. Diakses dari: http://sekolahalam-amani.blogspot.co.id/2011/07/manajemen-operasional-sekolah
Komalasari, Kokom. (2010). Pembelajaran Kontekstual. Bandung: Refika Aditama
Kurniawan, D. H. (2012). Kebutuhan Operasional Sekolah. Diakses dari: http://disinideddyck.blogspot.co.id/2012/11/kebutuhan-operasional-sekolah. html
Kustandi, C. (2105). Prinsip Pembelajaran. Diakses dari: https://cecepkustandi.wordpress.com/2015/06/29/prinsip-pembelajaran/
Pengertianmenurutparaahli.net. (2016). Pengertian Kegiatan Operasional Perusahaan. Diakses dari: http://www.pengertianmenurutparaahli.net/ pengertian-kegiatan-operasional-perusahaan/
Purwadinata. (1967). Psikologi Pendidikan dengan Pendidikan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sekolahalam-amani.blogspot.co.id. (2011). Manajemen Operasional Sekolah. Diakses dari: http://sekolahalam-amani.blogspot.co.id/2011/07/manajemen-operasional-sekolah
Setiawan, P. (2016). 10 Definisi Dan Pengertian Operasional. Diakses dari: http://www.gurupendidikan.com/10-definisi-dan-pengertian-operasional/
Suhardan, D. (2014). Supervisi Profesional (Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pengajaran di Era Otonomi Daerah). Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, N. S. (2003). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 wacana Sistem Pendidikan Nasional Pembelajaran.



Sumber http://samplingkuliah.blogspot.com