Showing posts with label Logam Tanah Jarang. Show all posts
Showing posts with label Logam Tanah Jarang. Show all posts

Tuesday, March 20, 2018

√ Sejarah Inovasi Logam Tanah Jarang (Ree)

Logam Tanah Jarang (disingkat LTJ) atau terjemahan dari REE (Rare Earth Element) dikenal di dunia sebab inovasi mineral berwarna hitam ytterbit (yang dinamai ulang menjadi gadolinit pada tahun 1800) oleh Letnan Carl Axel Arrhenius pada tahun 1787 di salah satu galian watu di Desa Ytterby, Swedia. Arrhenius menemui Johan Gadolin, profesor di Royal Academy of Turku untuk menganalisis mineral tersebut dan mendapat hasil analisis bahwa mineral yang tidak dikenal itu disebut "yttria". Sementara itu, Anders Gustav Ekeberg mengisolasi berrylium dari gadolinit tetapi gagal untuk mengenali unsur-unsur lain di dalamnya.

Baca juga: Apa itu Tanah Jarang

Setelah inovasi mineral dari Bastnas akrab Riddarthyttan, Swedia pada 1794, lalu diuji ulang oleh Jons Jacob Berzelius dan Wilhelm Hisinger, dan akhirnya dipercaya bahwa mineral itu yakni senyawa besi-tungsten. Pada tahun 1803 mereka memilih nama mineral oksida berwarna putih sebagai ceria, sama dengan mineral ochroia yang juga ditemukan oleh Martin Heinrich Klaproth. Dengan demikian pada tahun 1803 dikenali dua unsur tanah jarang yttrium dan cerium, meskipun memerlukan waktu 30 tahun lalu para peneliti memilih bahwa unsur-unsur lainnya terkandung di dalam bijih-bijih ceria dan yttria.

Pada tahun 1839, Carl Gustav Mosander, salah satu ajun Berzelius memisahkan ceria dengan cara memanaskan nitrat dan melarutkannya di dalam asam nitrit. Dia menyebutnya sebagai oksida dari larutan garam lanthana. Kemudian dalam waktu lebih dari tiga tahun lanthana dipisahkan menjadi didymia dan lanthana murni. Di tahun 1842, Mosander memisahkan yttria menjadi tiga oksida: yttria murni, terbia, dan erbia. Terbium merupakan garam berwarna merah muda, sedangkan peroksida kuning disebut erbium. Sehingga pada tahun 1842 jumlah unsur tanah jarang yang diidentifikasi berupa yttrium, cerium, lanthanum, didymium, erbium, dan terbium.

Nills Johan Berlin dan Marc Delafontaine juga mencoba memisahkan materi mentah yttria dan menemukan hal sama dengan yang ditentukan oleh Mosander, tetapi Berlin (1860) menamai zat garam merah muda itu sebagai erbium dan Delafontaine menyebutnya terbium. Kebingungan ini membawa ke arah beberapa kesalahan penentuan unsur-unsur gres menyerupai mosandrium yang ditentukan oleh J.Lawrence Smith, atau philippium dan decipium hasil penentuan oleh Delafontaine.

Baca juga: Logam Mulia Emas

Pada tahun 1879 Delafontaine memakai proses fisika gres spektroskopi dan menemukan beberapa jalur spektral gres di dalam didymia. Masih di tahun 1879, unsur gres samarium diisolasi dari mineral samarskit oleh Paul Emile Lecoq de Boisbaudran.

Samaria lebih jauh dipisahkan oleh Lecog de Boisbaudran di tahun 1886 dan hasil yang ditentukan dengan cara isolasi eksklusif dari samarskit oleh Jean charles Galissard de Marignac. Mereka menamai unsur tersebut godalium sehabis Johan Gadolin memisahkannya, dan oksidanya disebut gadolina. Antara tahun 1886 dan 1901, analisis spekstroskopi lebih jauh terhadap samaria, yttria, dan smarskit dilakukan oleh William Crookes, Lecoq de Boibaudran, dan Eugene-Anatole Demacay dan menghasilkan beberapa jalur spektroskopis gres yang mengindikasikan keberadaan salah satu unsur tak dikenal. Kristalisasi fraksional dari oksida-oksida tersebut lalu menghasilkan europium di tahun 1901.

 dikenal di dunia sebab inovasi mineral berwarna hitam ytterbit  √ Sejarah Penemuan Logam Tanah Jarang (REE)
Periodik unsur dan elemen logam tanah jarang.

Pada tahun 1839 sumber ketiga unsur tanah jarang menjadi tersedia, yang disebut uranotantalum (sekarang disebut samarskit) dan serupa dengan gadolinit. Mineral ini didapatkan dari Miass di potongan Selatan Pegunungan Ural dan didokumentasikan oleh Gustave Rose. Ahli kimia Rusia R.Hamann mengusulkan nama salah satu unsur gres yang disebut ilmenium yang ada di dalam mineral tersebut, tetapi lalu yang ditemukan di dalamnya oleh Cristian Wilhelm Blomstard, Galissard de Marignac, dan Heinrich Rose hanya berupa tantalum dan niobium (columbium).

Pada ketika itu jumlah niscaya dari unsur-unsur tanah jarang sangat tidak jelas, dan diperkirakan maksimum 25 (duapuluh lima) unsur. Penggunaan spektra X-ray oleh Henry Gwyn Jeffrey Moseley menciptakan penentuan nomor atom unsur-unsur menjadi memungkinkan. Moseley menemukan bahwa jumlah niscaya lanthanida yakni 15 dan unsur ke-61 telah ditemukan. Mengacu pada kenyataan di atas perihal nomor-nomor atom menurut analisis kristalografi X-ray, Moseley juga menunjukkan bahwa hafnium (unsur ke-72) bukan unsur tanah jarang. Moseley terbunuh pada Perang Dunia I di tahun 1915, bertahun-tahun sebelum hafnium ditemukan. Oleh sebab itu, akreditasi Georges Urbain perihal inovasi unsur ke-72 yakni tidak benar. Hafnium merupakan salah satu unsur yang terletak eksklusif di bawah zirkonium dalam tabel periodik, dan hafnium mempunyai sifat-sifat kimia dan fisika yang sama dengan zirkonium.

Baca juga: Logam Titanium

Selama tahun 1940-an, Frank Spending dan lain-lain di Amerika Serikat (Proyek Manhattan) menggambarkan mekanisme kimiawi berupa pertukaran ion untuk pemisahan dan pemurnian unsur-unsur tanah jarang. Metoda ini diaplikasikan pertama kali terhadap actinida untuk memisahkan plutonium-239 dan neptonium dari uranium, thorium, actinium, dan unsur-unsur tanah jarang actinida yang lain yang dihasilkan dari reaktor-reaktor nuklir.

Sumber-sumber utama unsur-unsur tanah jarang berupa mineral-mineral basnasit, monasit, dan loparit serta lempung-lempung adsorpsi-ion lateritik. Kecuali kelimpahan unsur-unsurnya yang tinggi mineral-mineral tanah jarang lebih sukar ditambang dan diekstraksi daripada sumber-sumber logam transisi (karena kesamaan sifat kimianya); menciptakan unsur-unsur tanah jarang relatif berharga mahal. Penggunaannya di bidang industri sangat terbatas sampai teknik-teknik pemisahan yang efisien dikembangkan menyerupai pertukaran ion (ion exchange), kristalisasi fraksional (fractional cristalization) dan ekstraksi cairan-cairan (liquid-liquid extraction) selama final tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an.
Sumber http://www.geologinesia.com

Saturday, March 17, 2018

√ Perkembangan Logam Tanah Jarang (Ree) Di Dunia Dan Indonesia

Logam Tanah Jarang (LTJ / REE) sesuai dengan namanya merupakan senyawa mineral dengan unsur tanah jarang yang sangat langka atau kelimpahannya sangat sedikit. Keterdapatan di alam berupa senyawa kompleks umumnya senyawa fosfat dan karbonat. Dengan perkembangan teknologi pengolahan material, logam tanah jarang semakin diharapkan dan umumnya pada industri teknologi tinggi.

Baca juga: Sejarah Penemuan Tanah Jarang

Logam tanah jarang banyak diburu bersama paduannya lantaran dipakai untuk banyak peralatan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya berupa: memori komputer, DVD, baterai isi ulang, telepon seluler, konventer katalis kendaraan bermotor, magnet, lampu fluoresen dan lain-lain. Bahkan kegunaan untuk komputer dan DVD telah tumbuh lebih cepat daripada telepon seluler. Berbagai tipe rechargeable batteries yang banyak mengandung cadmium (Cd) atau timbal, kini digantikan dengan baterai rechargeable lanthanum-nickel-hydride (La-Ni-H). Demikian halnya pada baterai komputer, baterai kendaraan beroda empat dan peralatan komunikasi banyak memakai LTJ lantaran daya pakai yang lebih lama, gampang diisi ulang (recharge) dan gampang didaur ulang.

Di dalam negeri, logam tanah jarang sebagai komoditas pertambangan sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 23 tahun 2010 yakni digolongkan sebagai cuilan dari jenis mineral logam yang keseluruhannya 58 jenis, walaupun pada kenyataannya sampai dikala ini belum ada Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan khusus untuk LTJ, namun dalam bentuk mineral monasit ((Ce, La, Pr, Nd, Th, Y)PO4) dan xenotim (YPO4) banyak diperdagangkan secara tidak resmi.

Pengusahaannya sebagai komoditas tambang sudah pula diatur dalam PP nomor 1 tahun 2014 dan dalam Peraturan Menteri nomor 1 tahun 2014 sebagai produk mineral yang harus diolah atau dimurnikan di dalam negeri, akan tetapi produk LTJ ini diperoleh berupa produk sampingan timah (Sn). Hingga kini industri LTJ dalam pengertian industri hulu dengan produk unsur, senyawa oksida atau hidroksida belum ada di Indonesia walaupun perencanaan ke arah sana sudah dibahas dalam aneka macam seminar berkali-kali.

Perkembangan Logam Tanah Jarang secara Global (REE/LTJ).

Bila melihat kondisi pasar REE setidaknya pada dekade terakhir ini, kebutuhan dunia terus meningkat terutama disebabkan kegunaannya dalam industri berteknologi tinggi. Pada teknologi tinggi berupa industri "magnetic refrigeneration" lantaran REE memiliki daya magnet yang sangat kuat. Untuk memenuhi kebutuhan, dunia sudah semenjak usang mengandalkan potensi yang ada di Tiangkok. Sekitar 90% kebutuhan dunia dipasok dari Tiongkok. Akan tetapi akhir-akhir ini pemerintah Tiongkok mulai membatasi produksinya sampai 60% yang berdampak semakin mahalnya dan langkanya komoditas ini di pasaran global. Harganya pun sempat meroket walau belakangan harga ini mulai menurun.

Baca juga: Logam Tanah Jarang

Sejalan dengan perhatian terhadap ketidaktergantungan pemanfaatan energi, perubahan iklim, dan isu-isu wacana penjualan kendaraan listrik yang memakai baterai, mengakibatkan ajakan akan senyawa logam tanah jarang meningkat lebih cepat. Pemicu peningkatan ajakan senyawa-senyawa logam tanah jarang juga sejalan dengan peningkatan kebutuhan materi pembuat katalis, fosfor, dan pemoles untuk pengendali pencemaran udara, layar iluminasi pada perangkat elektronik dan gelas optik.
Sumber http://www.geologinesia.com

Thursday, March 15, 2018

√ Penelitian Logam Tanah Jarang (Ltj/Ree) Di Indonesia

Merespon kondisi pasar yang demikian bagusnya, banyak sekali negara disamping penghasil utama, Tiongkok, berlomba-lomba mencari potensi dan berbagi LTJ secara serius, menyerupai Amerika, Kanada, Jepang, maupun negara-negara lainnya, tidak ketinggalan juga Indonesia. Khusus Jepang, Tiongkok, negara-negara Asia lainnya rupanya melirik Indonesia menjadi lokasi pilihan bagi investor atau para peminat dari negara-negara tersebut dalam berbagi komoditas REE. Badan geologi dan institusi terkait lainnya merespon dengan mengadakan banyak sekali seminar maupun kelompok diskusi, survey, dan eksplorasi secara rutin guna berbagi penelitian potensi REE di Indonesia.


Secara historis, bekerjsama Indonesia sudah melaksanakan penyelidikan LTJ setidaknya menurut laporan penyelidikan yang tersedia semenjak tahun 1991. Misalnya, menurut kompilasi data kadar monazit dan xenotim pada endapan aluvial di wilayah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung mengatakan kandungan yang cukup signifikan (lihat gambar di bawah).

Pada tahun 1990-an, PSDG yang pada waktu itu masih berjulukan Direktorat Sumber Daya Mineral, membentuk unit khusus untuk melaksanakan banyak sekali penyelidikan wacana LTJ. Hasilnya, banyak indikasi di Sumatera dan Bangka Belitung dan juga indikasi berupa zircon di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Semenjak maraknya undangan pasar dunia, Badan Geologi telah secara rutin melaksanakan survey dan penyelidikan LTJ secara rutin.

Hal yang menjadi fokus utama bagi para peneliti di Indonesia yaitu tetap mengarah kepada penelitian mineral-mineral yang mengandung unsur tanah jarang (monazit, xenotim, dan zircon) yang tersebar sebagai ikutan terutama di dalam cebakan aluvial (placer) timah. Hal ini disebabkan potensi cebakan tersebut diperkirakan melimpah sebarannya di lingkungan bahari dan daratan kepulauan Bangka, Belitung, dan Riau yang merupakan potongan dari jalur sumberdaya timah Asia Tenggara.

 Merespon kondisi pasar yang demikian bagusnya √ Penelitian Logam Tanah Jarang (LTJ/REE) di Indonesia
Kandungan monasit dan xenotim mengandung LTJ di Kepulauan Riau dan Bangka Belitung.

Disamping forum penelitian pemerintah, BUMN menyerupai PT Timah,Tbk juga aktif melaksanakan penelitian pemanfaatan sisa buangan tambang timah yang dimiliki terutama di wilayah Bangka Belitung dan Riau. Perusahaan ini juga menjalin kerjasama dengan BATAN, Kementrian Perindustrian, Badan Geologi, dan Balitbang ESDM guna melaksanakan penelitian bersama dalam berbagi LTJ.


Baru-baru ini telah dibuat secara bahu-membahu suatu konsorsium LTJ yang melibatkan para jago yang ada untuk menangani penyelidikan mulai dari hulu, inventarisasi atau penyelidikan sumberdaya, sampai potongan hilir yaitu pengolahan dan ekstraksi unsur LTJ maupun industri pembuatan aneka produk di dalam negeri. Suatu langka positif yang sudah terlihat sampai kini diantaranya yaitu telah terbangunnya suatu pilot plant industri pengolahan LTJ dengan materi baku berupa sisa buangan tambang timah, dimana pabrik percobaan tersebut ditempatkan di Bangka Barat (Mentok) dengan kapasitas uji coba sekitar 50 kg monasit per hari.

Disamping itu, Badan Geologi telah banyak mempublikasikan hasil-hasil penyelidikan LTJ baik dalam endapan sisa buangan timah, tambang emas plaser maupun jenis primer di banyak sekali lokasi. Peta kandungan monasit sebagai mineral utama LTJ untuk Kepulauan Bangka Belitung telah dipublikasikan pada tahun 2013 yang sanggup dipakai sebagai anutan dalam penyelidikan LTJ di Pulau Bangka. Hasil penyelidikan pada pelapukan granit di Sumatera Utara yang mengatakan adanya indikasi LTJ yang cukup signifikan di tempat ini juga telah dipublikasikan jadinya pada tahun 2012.


Penemuan indikasi LTJ dalam monasit juga merupakan hal penting yang ditemukan oleh Badan Geologi di Kepulauan Natuna, Riau baru-baru ini yang masih terus dikembangkan sampai diperoleh sumberdayanya. Masih banyak kegiatan penyelidikan yang akan dilaksanakan pada masa mendatang untuk memastikan layak tidaknya industri LTJ dibangun di Indonesia dalam banyak sekali skala atau tingkatannya.

Sumber http://www.geologinesia.com

Sunday, March 11, 2018

√ Geologi Dan Genesa Logam Tanah Jarang (Ltj/Ree)

Konsentrasi unsur logam termasuk logam tanah jarang (LTJ/REE) akan membentuk endapan hemat yang sanggup dijadikan komoditas tambang. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa tanah jarang adalah suatu kelompok unsur yang terdiri atas 17 unsur kimia, dimana dalam proses pembentukannya selain dipengaruhi faktor fisika dan kimia juga dipengaruhi oleh nilai kandungan unsur-unsur itu di dalam kerak bumi, sebab semua proses pembentukan tersebut berlangsung dalam kerak bumi.

Baca juga: Penelitian Logam Tanah Jarang di Indonesia

Proses yang berlangsung baik pada media larutan magmatis maupun fluida sisa magmatis (hidrotermal), akan membawa unsur-unsur yang ada dalam kerak dan terkonsentrasikan pada daerah tertentu sesuai kondisi lingkungan fisika dan kimia. Ketika magma naik ke arah kerak bumi, terjadi perubahan komposisi sebagai respon terhadap variasi tekanan, suhu dan komposisi batuan-batuan di sekelilingnya. Akibatnya terbentuk jenis-jenis batuan yang berbeda dengan variasi pengayaan unsur-unsur bernilai ekonomis, termasuk unsur-unsur tanah jarang.

Kelimpahan logam tanah jarang (LTJ) pada kerak bumi bersama-sama tidak tergolong terkecil jikalau dibandingkan unsur logam lainnya, bahkan ada yang hanya beberapa ppb mirip emas, hal ini terlihat dari nilai kandungannya sampai puluhan ppm mirip ditunjukkan sejumlah data pada tabel dibawah ini.

Konsentrasi unsur logam termasuk logam tanah jarang  √ Geologi dan Genesa Logam Tanah Jarang (LTJ/REE)
Tabel sebaran logam tanah jarang pada kerak bumi (ppm) (Keith R. Long., 2010).

Konsentrasi unsur LTJ pada proses pembentukan batuan berbeda-beda satu terhadap yang lain. Karbonatit, kimberlit, batuan alkalin merupakan jenis batuan dimana kandungan LTJ termasuk paling tinggi, sehingga secara teoritis proses konsentrasi bijih pada lingkungan batuan ini lebih kaya dibandingkan batuan lainnya, contohnya dibandingkan dengan batuan menengah selisik (lihat tabel dibawah). Dengan demikian pencarian endapan LTJ hemat di lingkungan batuan ini lebih berpeluang dibandingkan pada lingkungan batuan lainnya.

Konsentrasi unsur logam termasuk logam tanah jarang  √ Geologi dan Genesa Logam Tanah Jarang (LTJ/REE)
Tabel kandungan LTJ dalam batuan basa dan ultrabasa (kiri atas) dan dalam batuan beku menengah-selisik (kiri tengah); gambar model pembentukan LTJ di Bayan, Obo Tiongkok (kiri bawah); Tabel pembagian terstruktur mengenai endapan-endapan mengandung LTJ (kanan). (Henderson, 1984; Drew et al, 1991; Long dkk., 2010).

Genesa endapan logam tanah jarang secara umum sanggup diklasifikasikan ke dalam endapan primer dan sekunder. Pada endapan primer, proses pembentukannya sangat bekerjasama dengan acara magmatik dan hidrotermal. Sedangkan pada endapan sekunder bekerjasama dengan proses rombakan dan sedimentasi.

Baca juga: Sejarah Penemuan Logam Tanah Jarang

Berdasarkan endapan yang terdapat di potongan Obo, Tiongkok maka LTJ sanggup terbentuk sebagai proses pergantian (replacement) batuan karbonat asal sedimenter, namun larutan sanggup berasal dari seri batuan intrusi karbonat alkalin (Drew et. Al, 1991). Batuan alkalin/karbonat mengandung sebagian besar sumberdaya LTJ. Karbonatit umumnya berasosiasi dengan materi ultramafik dan/atau batuan alkalin, dalam banyak kasus terdapat sebagai dyke terisolasi, intrusif berbentuk silinder dan kerucut gunung api.

Di Mountain Pass Amerika Serikat, endapan tipe karbonatit berukuran besar. Keterdapatan LTJ pada endapan tipe karbonatit berukuran besar dipandang sebagai potongan massa batuan beku utama, artinya terbentuk bersama-sama dengan pembekuan batuan tersebut. Endapan lain dari tipe hidrotermal dan pengayaan supergen di dalam karbonatit juga dijumpai sejumlah kecil mineral mengandung LTJ diikuti pembentukan granit, granit alkalin, dan batuan bersifat alkalin. Endapan LTJ juga sanggup terbentuk di dalam pegmatit dan proses kontak skarn, endapan lainnya terbentuk sebagai urat hidrotermal dan pergantian (replacement).

Pembentukan LTJ atas dasar studi endapan Bayan Obo (Tiongkok) mengatakan bahwa endapan terbentuk pada batuan karbonatit yang mirip data pantai samudera dan berinteraksi dengan kelompok Bayan Obo. Sementara jenis endapan LTJ lainnya terbentuk melalui proses replacement hidrotermal terhadap batuan karbonat asal sedimenter. Larutan hidrotermal sanggup berasal dari seri intrusi karbonatit alkalin. Endapan yang cukup besar mirip itu memerlukan struktur skala besar yang bertindak sebagai jalan masuk untuk unsur bijih dari kedalaman.

Baca juga: Perkembangan Logam Tanah Jarang Secara Global

Berdasarkan endapan karbonatit Mountain Pass (Amerika Serikat), batuan-batuan syenit, shonkinit, granit dan banyak karbonatit di intrusi beralaskan metamorf. Tubuh Karbonatit Sulphida Queen merupakan endapan utama dengan panjang 730 m dan lebar 200 m, yang utamanya tersusun dari dolonium dan kalsit yang diikuti barit dan sejumlah besar bastnaesit.

Beberapa endapan lain juga ditemukan berupa endapan oksida besi tembaga (Cu) - Emas (Au) dan telah dikenal sebagai salah satu endapan mengandung unsur tanah jarang menurut inovasi endapan raksasa "Olympic Dam" di Australia Selatan pada tahun 1980-an. Endapan luar biasa ini mengandung sejumlah besar unsur-unsur tanah jarang dan uranium (U).

Jenis endapan LTJ yang terdapat di dunia jikalau dikaitkan dengan lingkungan batuannya terdiri dari jenis batuan beku pegmatit, karbonatit, metamorf, dan plaser (lihat tabel pembagian terstruktur mengenai di atas). Pada umumnya jenis plaser dicirikan dengan mineral monasit dan xenotim, menyebar di potongan Australia, Asia Selatan, Afrika potongan selatan, dan Amerika Latin. Yang berkaitan dengan batuan karbonatit mayoritas menempati daratan Tiongkok.
Sumber http://www.geologinesia.com

Friday, March 2, 2018

√ Genesa Endapan Sekunder Logam Tanah Jarang (Ltj)

Proses pelapukan residual banyak ditemukan terbentuk di bawah iklim tropis dan subtropis. Proses pelapukan mengkonsentrasikan LTJ berupa layer mineral utama pada kerak pelapukan yang bersumber dari batuan kaya LTJ ibarat karbonatit dan granit. Dalam hal ini ibarat dengan proses lateritisasi bauksit dan nikel.

Baca juga: Pembentukan Endapan Primer Logam Tanah Jarang

Proses pelapukan lainnya yang dianggap gres terdapat di Jiangxi Tiongkok. Batuan granitoid mengandung endapan LTJ terkonsentrasi berupa layer lempung pada kerak lapukan, sejumlah geologist Tiongkok menyebutnya sebagai tipe endapan "ion adsorption-type".

Mengacu pada endapan LTJ pantai Australia, endapan plaser LTJ terbentuk tanggapan gelombang, tiupan angin, dan kombinasinya. Endapan plaser sanggup berasosiasi dengan rutil-zircon-ilmenit. Endapan jenis residual (ion-adsorption deposits) menurut yang terdapat di tempat Wanling Tiongkok Selatan, terbentuk sebagai hasil pelapukan lateritik granit yang meluas mengintrusi, terutama watu granit berumur 195 - 130 juta tahun lalu.

Baca juga: Pengertian Logam Tanah Jarang (LTJ/REE)

Granit merupakan batuan induk paling umum untuk endapan tipe ion adsorpsi. Di bawah iklim panas dan lembab pada zona subtropis, granit ini mengalami pelapukan kimia biologi kuat, dimana LTJ terabsorpsi terutama di atas permukaan lempung berupa ion, kemudian membentuk endapan LTJ jenis ion absorpsi. Jenis endapan ion penyerapan terbentuk setidaknya harus mempunyai dua persyaratan umum, yaitu:
  1. Harus cukup jumlah batuan induk yang mengandung LTJ,
  2. Pelapukan atau proses lateritik harus terawetkan / bertahan pada periode panjang dengan pengikisan terbatas. 

Proses pelapukan residual banyak ditemukan terbentuk di bawah iklim tropis dan subtropis √ Genesa Endapan Sekunder Logam Tanah Jarang (LTJ)
Kenampakan tipe deposit ion adsorption.

Pelapukan semua jenis batuan menghasilkan sedimen-sedimen yang diendapkan di aneka macam lingkungan ibarat sungai, pantai, kipas aluvial dan delta. Proses pengikisan menghasilkan konsentrasi-konsentrasi mineral berat terutama emas, membentuk endapan-endapan placer. Demikian juga unsur-unsur tanah jarang ibarat monasit dan xenotim, tergantung kepada sumbernya sanggup terkonsentrasi bersama mineral-mineral berat lainnya.

Sumber unsur-unsur tanah jarang tidak harus batuan beku alkalin atau endapan unsur-unsur tersebut. Banyak batuan beku lainnya, batuan malihan, dan juga batuan-batuan sedimen dengan kandungan monasit sanggup membentuk suatu endapan plaser mengandung monasit. Namun, jenis-jenis plaser dengan konsentrasi monasit khususnya berupa plaser mengandung mineral berat ilmenit. Plaser ilmenit ditambang untuk kemudian dipakai sebagai pigmen oksida titanium (Ti) dan timah putih (Sn).

Baca juga: Sejarah Penemuan Logam Tanah Jarang

Bauksit karst yaitu jenis endapan lain berupa tanah yang kaya akan kandungan aluminum (Al) yang terakumulasi di atas karst batugamping. Deposit ibarat ini sanggup ditemukan di Montenegro dan aneka macam tempat lainnya. Deposit ini kaya akan kandungan unsur-unsur tanah jarang, tetapi tidak membentuk konsentrasi yang bernilai ekonomis.

Endapan-endapan fosfat marin yaitu jenis lain endapan yang mengandung unsur-unsur tanah jarang. Jenis endapan ini sanggup mengandung oksida tanah jarang sampai 0,1%. Disini, unsur-unsur tanah jarang hanya dipakai sebagai sampingan dari pengolahan pupuk fosfat.

Endapan LTJ sanggup terbentuk dengan proses sedimentasi menjadi endapan plaser dan konglomerat. Mineral detrital berasal dari aneka macam varietas batuan primer mulai dari fragmen urat-urat kuarsa sampai kompleks batuan beku ataupun metamorf.

Baca juga: Penelitian Logam Tanah Jarang di Indonesia

Untuk membentuk konsentrat yang bernilai ekonomis, memerlukan sejumlah mineral berharga serta kondisi geografis dan iklim yang sesuai. Biasanya, mineral utama LTJ (monasit dan xenotim) berasosiasi dengan mineral titanium dan zircon dalam bentuk endapan plaser, sering dijumpai di Australia, India, Brazil, Malaysia, dan Indonesia. Sedangkan jenis endapan LTJ konglomerat yang kaya kelompok yttrium sering dijumpai di Kanada.
Sumber http://www.geologinesia.com

Tuesday, February 27, 2018

√ Mineralogi Logam Tanah Jarang Di Indonesia

Berdasarkan hasil penelitian di Indonesia, mineral-mineral yang mengandung unsur tanah jarang di Indonesia terdapat sebagai mineral ikutan dari acara penambangan timah dan emas aluvial. Hal ini merupakan sebuah peluang untuk sanggup diambil sebagai produk sampingan yang memperlihatkan nilai tambah sehingga sanggup mengurangi materi galian tertinggal dan materi galian terbuang dalam suatu acara penambangan.

Baca juga: Genesa Endapan Sekunder Logam Tanah Jarang

Potensi endapan timah dan emas aluvial di Indonesia kita ketahui cukup berlimpah. Mineral utama mengandung unsur atau logam tanah jarang yang banyak ditemukan di Indonesia yaitu xenotim, monasit, dan zircon yang berasosiasi dengan kasiterit yang diperoleh dari penambangan timah aluvial. Berikut ini diuraikan ketiga mineral utama LTJ yang banyak ditemukan di Indonesia:

Berdasarkan hasil penelitian di Indonesia √ Mineralogi Logam Tanah Jarang di Indonesia
Tabel Mineral Utama LTJ pada Penambangan Timah Aluvial.

MONASIT
Monasit yaitu mineral fosfat yang mengandung LTJ dan thorium (Ce,La,Pr,Nd,Th,Y)PO4 dan mengandung 60-62% total oksida tanah jarang. Monasit umumnya diambil dari konsentrat yang merupakan hasil pengolahan dari endapan aluvial mineral logam berat lain.

Monasit mempunyai kandungan thorium yang cukup tinggi, sehingga mineral tersebut mempunyai sinar alfa (sifat radiaktif). Thorium memancarkan radiasi tingkat rendah, dengan hanya memakai selembar kertas saja maka akan terhindar dari radiasi yang dipancarkannya.

Baca juga: Timah Placer

Monasit tahan terhadap pelapukan kimia dan mempunyai berat jenis yang tinggi dalam asosiasinya dengan mineral berat lainnya ibarat ilmenit, magnetit, zircon, dan rutil. Kristal monasit berwarna kuning hingga coklat atau orange-coklat dengan kilap sutera. Butiran monasit biasanya berbentuk prismatik dengan diakhiri bentuk membaji, bentuk lainnya biasanya granular dan bentuk pejal.

XENOTIM
Xenotim yaitu mineral fosfat yang mengandung Y (YPO4) dan merupakan senyawa yttrium fospat dengan kandungan 54-65% LTJ termasuk erbium, cerium, dan thorium. Xenotim juga merupakan mineral yang sering ditemukan dalam pasir mineral berat serta dalam pegmatit dan batuan beku.

Xenotim berwarna coklat kekuningan hingga coklat kemerahan dengan kilap sutera. Warna lain xenotime biasanya kelabu, oranye, dan hijau. Xenotim selalu akan hadir sebagai mineral pelengkap dalam batuan asam dan alkalin, walaupun dikala ini telah teramati dalam sekis mika dan gneiss yang kaya kuarsa. Selain itu, xenotim sanggup hadir sebagai mineral rombakan.

Xenotim sanggup secara gampang tertukar dengan zircon oleh alasannya kesamaan bentuk kristal dan kenampakan secara keseluruhan. Namun demikian, xenotim tidak sekeras zircon dan menampakan kepingan sempurna.

ZIRCON
Zircon merupakan senyawa zirkonium silikat yang di dalamnya sanggup terkandung thorium, yttrium, dan cerium.

Baca juga: Genesa Endapan Primer Logam Tanah Jarang

Ketiga jenis mineral yang mengandung LTJ di atas banyak ditemukan dalam penambangan timah aluvial di tempat Bangka-Belitung dan Kepulauan Riau. Masing-masing wilayah penambangan memperlihatkan karakteristik persen berat kelimpahan kasiterit, monasit, xenotim, dan zircon yang berbeda-beda.
Sumber http://www.geologinesia.com